07 September 2009

Definisikan Kembali Dirimu

Kecuali kamu mengubah gambar dirimu, hidupmu tidak akan pernah berubah!
Bagian 5 dari 8 seri Bagaimana Menghilangkan Kebiasaan Buruk Sekarang!
by Bo Sanchez 

   Saya hanyalah seorang anak kecil saat itu.
   Tapi sampai hari ini, saya tidak pernah bisa melupakan kipas angin elektrik tua kami.
   Jika kamu seumur dengan saya, kamu mungkin sudah pernah melihat monster-monster itu: Sebuah kipas angin elektrik terbuat dari besi 100% yang sama beratnya dengan sebuah perahu. Dan dengan pisau yang dapat memenggal kepalamu.
   Suatu hari, saya menyalakannya, dan pisau-pisau itu benar-benar membuat berisik sekali, sehingga kamu akan mengira ada sebuah helikopter tentara tepat di dalam rumah kami.
   Itulah saat di mana Chuck sepupu kami bertandang ke rumah dan mengajukan diri untuk membetulkannya. Dia terkenal dalam keluarga sebagai seorang “kuli-segala-sesuatu-tapi-bukan-ahli-apapun”. Kami seharusnya lebih berfokus pada bagian “bukan-ahli-apapun”. Karena setelah dia “memperbaiki”-nya, suara bising itu hilang sama sekali—tapi juga semua tanda kehidupan. Kipas angin kami sekarang mati. “Chuck, kamu membunuhnya!” kata kami. “Ya setidaknya, dia tidak berisik lagi sekarang,” katanya, “dan kita bisa menjual sampah ini!”
   Saat itulah paman saya Tom datang. “Dia pandai mengerjakan segala sesuatu dengan tangannya,” kata ayah saya. Maka kamu memintanya untuk memeriksa apa yang tersisa dari kipas angin kami.
   Paman Tom membuka bagian-bagiannya, dan setelah hampir dua jam, menyatukannya kembali. Dia mencolokkan listriknya—dan dengan nafas tertahan—kami melihat pisau-pisaunya bergerak lagi! Dan tanpa suara pula.
    Tapi tidak heran, karena pisau-pisau itu membuat satu putaran penuh setiap...60 detik! Sangat lambat, hingga kami bertanya-tanya apakah benda itu telah berubah menjadi jam.
   Saat itulah satu saudari saya bertanya, “Siapa yang membuat kipas ini sebenarnya?”
   Seseorang berkata, “Hitachi.”
   Saudari saya yang lain berkata, “Kalau begitu mari kita bawa ke Hitachi. Bila mereka yang membuatnya, aku yakin mereka bisa memperbaikinya.” Sekali-sekali, saudari-saudari saya dapat mengatakan hal yang masuk akal juga. (Hanya bercanda. Saya anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga, dan yang paling muda juga. Jadi saya punya izin untuk menggoda mereka.)
   Benar juga, kami membawa kipas angin itu ke Hitachi, dan dalam beberapa hari, kipas angin itu berfungsi dengan sempurna.

Kamu Memiliki Sebuah Gambar Diri Dalam Hatimu; Seringkali, Itu Adalah Sebuah Kebohongan
   Dalam pikiranmu, kamu sudah memiliki sebuah gambaran tentang siapa dirimu.
   Itulah Gambar Diri.
   Dan hal itu sangat luar biasa kuatnya; sebenarnya itulah yang menentukan keseluruhan hidupmu.
   Gambar diri ini—bagaimana kamu mendefinisikan dirimu—berasal dari kumpulan pengalaman-pengalaman kegagalan dan kesuksesanmu. Hal ini juga berasal dari bagaimana orang lain memperlakukanmu. Dan juga berasal dari bagaimana kamu memperlakukan dirimu sendiri selama ini.
   Itulah sebabnya mengapa Gambar Diri-mu bisa jadi sebuah kebohongan.
   Ini seperti menanyakan sepupu saya Chuck dan paman saya Tom untuk memperbaikimu. Mereka tidak punya cetakan biru-mu. Mereka benar-benar tidak tahu siapakah dirimu.
   Karena mereka tidak menciptakanmu.
   Sebaliknya, pergilah ke Pembuat-mu.
   Galilah ke dalam dirimu dan kamu akan melihat sebuah label tertempel ke jiwamu: “Milik Tuhan, Dibuat di Surga.”
   Dia memiliki cetakan biru-mu. Dia tahu semua bagianmu yang berfungsi. Dia mengenalmu lebih daripada kamu mengenal dirimu sendiri.
   Karena Dia membuatmu, Dia memiliki Gambar Diri-mu yang paling akurat.
   Teman, dalam hatimu sekarang, kamu membawa sebuah Gambar Diri—sebuah cara untuk melihat dirimu sendiri. Pertanyaan: Dari mana itu berasal?

Gambar Diri Saya Adalah Sebuah Kebohongan
   Bertahun-tahun yang lalu, saya memiliki ketergantungan pornografi yang parah.
   Pukul 3 dinihari, saya akan bangun dan berkeliaran di jalanan, mencari “perbaikan” saya—hal-hal pronografi. (Saat itu tidak ada internet porno, maka saya harus memohon untuk dapat membeli majalah porno yang murah.) Itulah saya bertahun-tahun yang lalu.
   Dalam pikiran saya, saya hanya memiliki satu Gambar Diri: Saya adalah pezinah. Saya tidak terkendali. Saya ini sakit dan jelek dan memalukan.
   Dan yang lebih kuat daripada ketergantungan seksual saya adalah ketergantungan saya akan penerimaan.
   Begitu putus asanya saya untuk memuaskan kelaparan saya akan cinta—dan putus asa untuk lari dari rasa malu di dalam diri saya—saya begitu putus asa supaya orang-orang menyukai saya. Saya akan berlutut untuk membuat orang-orang mencintai saya, tidak peduli berapa pun harganya. Saya adalah seorang hama Penggembira-Orang. Dan saya begitu sengsara seakan-akan di neraka.
   Ya, saya gagal di masa lalu. Terlalu sering untuk dapat dihitung!
   Oh, saya seharusnya tidak di sini menulis kepadamu.
   Tapi di sinilah saya, menulis buku-buku dan mengajar ribuan orang. Saya memimpin empat organisasi dan sebuah pelayanan yang mendunia. Saya seorang wirausaha yang sukses menjalankan bisnis-bisnis kecil saya. Saya seorang pria berkeluarga yang bahagia dengan seorang istri yang menawan dan dua anak laki-laki yang luar biasa.
   Saya seharusnya tidak menikmati ini semua.
   Saya seharusnya terbuang. Hancur. Tanpa harapan. Tersesat.
   Jadi apa yang terjadi?
   Dalam sebuah frase, saya mengubah Gambar Diri saya.
   Karena setiap kali saya datang kepada Tuhan dalam doa, Dia tidak akan setuju dengan Gambar Diri saya yang busuk. Dia akan bersikeras untuk mengubahnya. Setiap kali, Dia akan memberi tahu saya bahwa saya luar biasa, indah, dicintai dan kuat di luar imaginasi saya yang paling liar sekalipun.
   Dia juga memberi tahu saya bahwa tidak menjadi soal berapa kali saya gagal.
   Secara tida terduga, Dia bahkan tidak melihat kegagalan saya sama sekali...
   Biar saya bagikan kepadamu tiga Pelajaran besar tentang Gambar Diri:


  • Dapatkan Gambar Diri-mu dari Tuhan, jangan dari tempat yang lain
  • Tetap berfokus pada Gambar Diri-mu yang sejati
  • Tidak peduli apapun yang terjadi, jangan pernah melepas Gambar Diri-mu yang sejati

Pelajaran #1: Dapatkan Gambar Diri-mu dari Tuhan, jangan dari tempat yang lain

   Ubahlah gambar diri yang kamu bawa dalam hatimu.
   Karena kamu akan bertindak sesuai dengan Gambar Dirimu, entah itu benar atau tidak. Bisa saja itu adalah sebuah kebohongan besar (“Kamu jahat, kamu egois, kamu jelek, kamu miskin...”), tapi karena kamu mempercayainya, kamu akan setia kepadanya dan menjadikannya kenyataan.
   Itulah sebabnya saat kamu mengubah Gambar Dirimu, kamu sebenarnya mengubah hidupmu.
   Ingat: Gambaran Tuhan tentang kamu sangat berbeda dari Gambar Diri yang kamu bawa tentang dirimu sendiri. Sementara Gambar Dirimu biasanya berdasar pada masa lalumu, Gambaran-Nya tentang kamu selalu berdasar pada masa depanmu.
   Jadi dia melukis sebuah Gambar tentang kamu yang selalu indah dan luar biasa dan menyenangkan. Bagaimana cara kamu mendapatkan Gambar Dirimu dari Tuhan?
   Dengarkan suara-Nya yang lembut di dalammu. Apa yang Dia katakan di dalam hati-Mu? Dan apa yang Dia katakan lewat Firman-Nya? Dan apa yang Dia katakan lewat Gereja-Nya?
   Dia mengatakan banyak hal tentang kamu, tapi mari melihat kembali 3 Gambaran sederhana namun luar biasa.


  • Saya adalah Anak Tuhan
  • Saya adalah Sahabat Tuhan
  • Saya adalah Pemenang Tuhan
   Inilah siapa dirimu sebenarnya. Ingatkan dirimu akan 3 Gambar Diri ini, dan hidupmu akan berubah!

Gambar Dirimu yang Pertama: Kamu Lebih Penting Daripada Alam Semesta Karena Kamu Adalah Anak Tuhan

   Saya sudah membagikan cerita ini sebelumnya, tapi biar saya bagikan kembali.
   Setiap Sabtu malam adalah malam yang keramat bagi saya.
   Karena itulah saat di mana saya masuk ke dalam “gua”, ruang kerja kecil saya yang ada di belakang rumah saya, untuk mempersiapkan pengajaran mingguan saya keesokan harinya.
   Pada Sabtu malam, saya tiba di Pampangga. Saat saya menyetir pulang, saya sudah menetapkan semua rencana saya. Setelah mencium istri saya dan memeluk anak-anak saya, saya akan langsung menuju ke gua saya, menutup pintunya, dan mempersiapkan pengajaran saya.
   Tapi rencana saya gagal. Karena begitu saya masuk ke dalam rumah dan memeluk anak-anak saya, anak saya yang berumur 7 tahun berkata, “Papa, maukah Papa bermain denganku?”
   “Tentu!” kata saya secara otomatis, menyembunyikan setiap tanda-tanda penolakan dari suara saya. Kalian lihat, selama bertahun-tahun, saya telah banyak berlatih berkata “Ya!” bahkan jika yang saya inginkan adalah berkata, “Tidak! Tidakkah kamu lihat saya sibuk?”
   Sebagai seorang ayah, saya telah membuat peraturan untuk selalu berkata “Ya!” jika anak saya bertanya, “Papa, maukah Papa bermain denganku?” Karena saya tahu bahwa suatu hari anak saya tidak akan menanyakan pertanyaan itu lagi. Dia akan tumbuh dengan cepat dan memiliki hal-hal lain untuk dikerjakan. Jadi selama dia menanyakan pertanyaan itu, jawaban saya akan selalu “Ya!”

   Tuhan Akan Selalu Menjawab “Ya” Untuk Apa Yang Terbaik Bagimu

   Maka saya duduk di lantai dan bermain Pokemon dengannya.
   Ketika saya memegang figur Pikachu kecil di tangan saya, saya mulai berpikir tentang ribuan orang yang akan mendengarkan saya di FEAST keesokan harinya. Saya juga berpikir tentang ribuan orang lainnya di seluruh dunia yang akan mendengarkan lewat TV, radio, dan internet. Lalu apa yang saya lakukan di sana duduk di lantai dengan makhluk plastik kuning seperti tikus ini di tangan saya?
   Jawab: Melakukan pelayanan saya yang paling penting, yaitu, mencintai anak saya.
   Pada akhirnya, anak saya lebih penting daripada ribuan orang yang mendengarkan saya. Sederhana saja, karena saya ayahnya dan dia anak saya.
   Mengapa saya membagikan cerita ini kepadamu?
   Jangan pernah lupa bahwa kamu adalah Anak Allah.
   Dalam hati-Nya, kamu lebih penting daripada seluruh jagad raya.
   Saat kamu memanggil-Nya, Dia ada.
   Saat kamu berdoa, Dia mendengarkan.
   Saat kamu meminta, Dia memberikan versi terbaik dari apa yang kamu minta. (Tidak selalu apa yang kamu minta, karena terkadang kamu meminta yang terbaik kedua.)
   Kamu adalah anak-Nya. Berjemurlah dalam cinta-Nya kepadamu!
   Setiap pagi, bangunlah dan berteriaklah ke alam raya: “Saya adalah Anak Tuhan!”

Gambar Dirimu yang kedua: Tuhan berbicara Kepadamu Setiap Hari Karena Kamu Adalah Sahabat Tuhan
   Suatu hari, seorang pria datang kepada saya dan bertanya, “Apa kamu yang mendirikan Kerygma?”
   “Yep,” kata saya, “Sejak tahun 1990 yang lalu.”
   “Dan setelah itu, kamu menerbitkan 6 buah majalah lagi, Didache, Gabay, Companion, Sabbath... apa lagi yang lain?” tanyanya.
   “Fish, majalah remaja kami, dan Mustard, majalah anak-anak kami.”
   Dia memegang tangan saya dan bertanya, “Bo, bolehkah saya bertanya sesuatu?”
   “Silakan,” kata saya.
   “Dari mana kamu mendapat semua ide itu? Di samping majalah, kamu juga menerbitkan Preacherinbluejeans.com dan Kerygmafamily.com.... Wow, saya serius. Dari mana semua ide itu berasal?”
   Saya beri tahu sejujurnya, saya tidak dapat menjawabnya.
   Karena saya merasa jawaban saya akan terdengar sombong.
   Saya ingin memberitahunya, “Saya adalah sahabat Tuhan dan Dia berbicara kepada saya.”
   Tidak dengan kilatan petir dan guntur. Tapi dengan inspirasi biasa yang indah. Mengapa? Karena Dia adalah sahabat saya dan sahabat berbicara satu sama lain setiap hari. Tunggu sebentar. Kalau-kalau kamu berpikir saya berbicara sembarangan, bacalah kalimat saya berikut ini: Jika kamu melihat kembali hidupmu, kamu akan menyadari bahwa Tuhan telah berbicara kepadamu juga. Dia telah membimbingmu sepanjang hidupmu. Karena Dia adalah sahabatmu juga. Tidak ada yang spesial dengan saya. Saya kentut. Saya mendengkur. Saya tidur dengan mulut terbuka. Saya meninggalkan kaos kaki kotor saya di lantai (Maaf, Sayang).
   Kita semua adalah sahabat Tuhan.
   Kamu adalah sahabat Tuhan. Dan Tuhan suka berbiacara denganmu.
   Yesus berkata, 


Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku (Yoh 15:15).

   Setiap pagi, berteriaklah ke alam raya, “Saya adalah Sahabat Tuhan!”

Gambar Dirimu yang ketiga: Kamu Dapat Melakukan Segala Sesuatu Karena Kamu Adalah Pemenang Tuhan
   Kapan pun saya menghadapi sebuah masalah, saya mengatakan kata-kata hebat ini keras-keras:


Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Fil 4:13)
   Biar saya ceritakan sebuah cerita kepadamu yang baru saja terjadi tiga bulan lalu.
   Tiga bulan lalu, saya khawatir.
   Karena kami membeli sebuah Audio System untuk FEAST berharga P2.4juta yang mengejutkan dan di luar pikiran. (Benda ini memiliki kekuatan untuk mengisi stadion besar.) Dan saya juga berjanji pada pria yang menjualnya bahwa kami akan membayarnya dalam tiga bulan.
   Jujur saja, saya tidak tahu bagaimana mungkin saya dapat membayarnya dalam tiga bulan.
   Biar saya beri tahu mengapa: Tahun lalu, kelompok kami, Light of Jesus, mendirikan lebih dari seratus rumah untuk orang miskin di desa Gawad Kalinga kami di Montalban, ditambah lebih dari lima puluh rumah untuk orang miskin dalam He Cares, sebuah pelayanan jalanan untuk anak-anak. Pada waktu yang sama, kami juga membangun sebuah bangunan seharga P9juta untuk Light of Jesus Center kami. Karena semua proyek luar biasa ini berlangsung di saat yang bersamaan, kantong-kantong kami sekarang berlubang.
   Jadi tiga bulan yang lalu, saat saya menandatangani surat perjanjian bahwa saya akan membayar P2.4juta untuk Audio System, itu mengungkapkan kegilaan...

Teman-Teman Saya Sudah Terbiasa Dengan Kegilaan Saya
   Tapi setelah tahun-tahun ini, saya telah terbiasa dengan kegilaan saya, begitu pun teman-teman saya.
   Saya rasa saya juga tidak punya pilihan lain, karena FEAST mingguan kami telah berkembang pesat dan kami benar-benar membutuhkan peningkatan Audio System.
   Jadi setelah saya menandatangani selembar kertas itu, saya naik ke panggung dan berbicara kepada penonton FEAST kami. “Teman, kami perlu mengumpulkan P2.4juta dalam tiga bulan untuk Audio System.” Kerumunan di depan saya melihat saya dengan tanda tanya besar di wajah mereka, menunggu inti pembicaraan saya. Mungkin mereka pikir saya bercanda.
   Saat akhirnya mereka sadar bahwa saya serius, saya mendengar seseorang di barisan depan berbisik, “Apa ini bulan purnama? Bo lagi-lagi tidak berpikiran waras.”
   Setelah pengumuman saya, saya mengedarkan kantong persembahan untuk Audio System. Betul saja. Pada hari itu, kami mengumpulkan jumlah yang sangat besar, luar biasa, di luar akal pikiran sejumlah.....(tolong bunyi genderang)......P12,000! Wow, jika terus seperti ini, saya menghitung kami akan mencapai P2.4juta dalam, oh, lima tahun. Ya ampun, kami butuh keajaiban.
   Selama tiga bulan itu, saya tidak tahu berapa kali saya katakan, segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Aku adalah pemenang Tuhan!
   Dan seiring berjalannya minggu, keajaiban itu datang.
   Pertama, pria luar biasa yang menjual Audio System itu menurunkan harganya menjadi P2.0juta. Dia berkata dia tidak lagi mau mengambil untung dari kami. (Diberkatilah jiwanya dan usahanya, Tuhan!) Kedua, banyak orang mulai memberi dengan penuh pengorbanan. Bahkan teman-teman dari luar negeri mengirim sumbangan mereka dengan setia.
   Dan hari ini, Audio System itu telah dibayar lunas.
   Selama 27 tahun pelayanan saya, Tuhan belum pernah membuat saya kecewa.
   Setiap pagi, berteriaklah ke alam raya, “Saya adalah Pemenang Tuhan!”

Pelajaran #2: Fokuskan Matamu Kepada Gambar Dirimu Yang Sejati
   Ronni adalah teman baik saya dan juga seorang pebisnis sukses.
   Ketika saya bertanya padanya mengapa dia begitu sukses, dia memberi tahu saya sebuah alasan yang sangat aneh: Dia berkata bahwa ketika dia masih kanak-kanak, ayahnya melarangnya membicarakan gosip di meja makan. Mereka tidak boleh membicarakan artis, tetangga mereka, atau hal-hal sepele biasa yang orang lain bicarakan.
   Sebaliknya, mereka selalu membicarakan bisnis.
   Bayangkan menjadi seorang bocah berumur 5 tahun. Dan semua di sekelilingmu, orang-orang membicarakan tentang bagaimana meningkatkan penjualan, bagaimana memuaskan pelanggan, dan bagaimana memasarkan produkmu!
   Sebagai seorang anak kecil, percakapan keluarga sehari-hari di meja makan ini melukiskan sebuah gambaran kuat dalam pikiran Ronni tentang akan menjadi apakah dia suatu hari nanti. Secara tidak sadar, dia sudah tahu dia akan menjadi pebisnis sukses.

Pelajaran #3: Apapun Yang Terjadi, Jangan Pernah Lepaskan Gambar Dirimu Yang Sejati
   Saat saya berpikir tentang Gambar Diri dari Tuhan, saya berpikir tentang Yusuf dalam Perjanjian Lama.
   Karena Yusuf mendapat mimpi tentang bagaimana dia di mata Tuhan. Dalam mimpi itu, dia melihat matahari, bulan, dan bintang-bintang membungkuk kepadanya. Ini menjadi Gambar Dirinya yang fantastis. Dia melihat dirinya sebagai Anak Tuhan, Sabahat Tuhan, dan Pemenang Tuhan. Dan lewat semua cobaan dalam hidupnya, dia terus berpegang pada Gambar Diri yang sejati ini.
   Yusuf tetap bangkit setelah setiap kegagalan, sekalipun orang lain tetap terus-menerus menjatuhkannya. Pertimbangkan daftar kegagalan ini:


  • Yusuf dibuang ke dalam sumur.
  • Yusuf dijual sebagai budak
  • Yusuf difitnah pemerkosaan
  • Yusuf dijebloskan ke dalam penjara
  • Yusuf dilupakan di dalam penjara!
Melewati semuanya ini, Yusuf pasti bertanya, “Tuhan, bagaimana dengan vision itu, mimpi itu, Gambar Diri itu yang Kau berikan padaku? Apakah itu palsu?”
   Tapi Yusuf tidak pernah menyerah.
   Setiap kali kegagalan menghancurkannya bagaikan pipa besi yang menghantam kepalanya, dia berpegang pada Gambar Diri yang Tuhan berikan dalam hatinya. Dia percaya bahwa dia akan menjadi seorang pemenang.


   Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat (2 Kor 5:7)
   Dan pada akhirnya, Gambar Diri Yusuf menjadi nyata.
   Dia menjadi Pemerintah di seluruh Mesir.
   Biar saya ceritakan sebuah cerita terakhir tentang kipas angin elektrik.

Gunakan Kekuatan Gambar Dalam Hatimu
   Ketika dia menikah, Rudy sangat miskin, dia bahkan tidak mampu membeli kipas angin elektrik. Dia dan istrinya menyewa sebuah kamar kecil seharga P90 per bulan. Dan kamar kecil ini menjadi panas ketika musim panas, dan tanpa sebuah kipas angin, kamar ini menjadi benar-benar panas.
   Tapi bahkan dalam kemiskinannya, Rudy percaya pada mimpinya.
   Dia juga seorang pemercaya yang hebat dengan memiliki gambar-gambar untuk mengingatkannya tentang mimpi-mimpinya.
   Maka dia melakukan hal yang konyol. Dia mengambil sebuah koran, memotong sebuah foto kipas angin elektrik, dan menempelkannya di dinding mereka. Dan setiap kali dia melihat foto itu, foto itu mengingatkannya pada gol besar dalam hidupnya (saat itu): Bahwa dia akan bisa membeli sebuah kipas angin elektrik untuk istrinya tercinta.
   Setiap kali dia melihat butir-butir peluh di dahinya, dia pergi ke foto itu, dan “menekan” tombol kipas itu. Dia berfokus pada mimpinya.
   Empat hari kemudian, Rudy mendengar ketukan di pintu.
   Ketika dia membukanya, dia melihat tetangganya memegang sebuah kipas angin listrik. Tetangganya itu berkata bahwa dia akan pindah dan bertanya apakah Rudy mau membeli kipas angin tuanya seharga P50.
   Rudy kegirangan. “Ya!” katanya.
   Dalam empat hari, kipas angin betulan sekarang menggantikan foto itu.
   Foto berikutnya yang ditempel di dinding adalah sebuah van putih yang cantik. Bodoh, bukan? Bagaimana mungkin seorang pria miskin yang bahkan tidak dapat membeli kipas angin elektrik sekarang bermimpi untuk membeli sebuah van?
   Tapi dia tetap bermimpi untuk van itu dan bekerja keras. Van putih datang. Begitu juga rumah yang lebih besar. Di sini (Filipina) dan juga di Amerika.
   Hari ini, Rudy adalah seorang multi-milionaire. Karena dia memiliki gambar-gambar yang menuntunnya selama perjalanannya. (Dan kalau-kalau kamu penasaran, ya, Rudy juga adalah salah satu mentor finansial dalam Program Truly Rich Coaching saya. Saya harap kamu dapat bertemu dengannya suatu hari nanti.)
   Memiliki foto ternyata berhasil!

Gantung Dalam Hatimu Gambar Dirimu Yang Sejati
   Tapi saya tidak memintamu untuk hanya menggantung foto sebuah kipas angin elektrik di dindingmu.
   Gunakan kekuatan gambar untuk sebuah tugas yang lebih penting: Gantung sebuah foto dirimu sendiri di dalam hatimu—orang macam apa yang Tuhan inginkan kamu menjadi di masa depan. Seperti Rudy, saya ingin kamu berfokus pada foto itu—Gambar Dirimu—dan mimpikan mimpi-mimpi besar.
   Lihatlah dirimu sebagai seorang kudus.
   Lihatlah dirimu sebagai seorang yang menyenangkan.
   Lihatlah dirimu sebagai sorang yang sukses.
   Dan lihatlah dirimu sebagai seorang yang “benar-benar kaya”.
   Definisikan kembali dirimu. Sekarang.


Saya tetap sahabatmu,




Bo Sanchez
-translated by hiLda 2009-


NB:
  1. Judul original artikel karya Bo Sanchez: "Redefine Yourself". Untuk membacanya, silakan cari di kotak Google Custom Search di sebelah kanan.
  2. Download PDF-nya di sini. Bila kamu merasa diberkati, bagikanlah tulisan ini ke teman-temanmu. GBU alwayz... ^^




Bookmark and Share
Baca selengkapnya...

03 September 2009

Bentuk Dunia Luarmu Sebelum Dia Membentukmu

Bagaimana untuk mengatakan TIDAK pada orang beracun dalam hidupmu
Bagian 4 dari 8 seri Bagaimana Menghilangkan Kebiasaan Buruk Sekarang!
by Bo Sanchez 

    Sebagai seorang remaja, saya adalah anggota dari sebuah kelompok kecil mudika Katolik.
    Dalam kelompok itu, saya dipanggil “St. Fransiskus” karena saya menyukai Lady Poverty, mengenakan kaos paling butut, sandal coklat paling mengerikan, dan berdoa dalam kapel sepanjang hari. (Sebenarnya, saya lebih banyak tidur, tapi itu rahasia antara kamu dan saya saja.)
    Salah satu teman saya dipanggil “Brother Leo” karena dia menirukan saya, seperti Brother Leo meniru tuannya, St. Fransiskus.
    Jika saya berdoa dengan cara tertentu—dengan mata tertutup, tangan dikatupkan, kepala tertunduk dan miring ke kiri—dia akan berdoa dengan cara yang sama.
    Jika saya mengenakan kaos butut karena cinta saya pada kemiskinan, dia akan mengenakan benda yang sama.
    Karena saya berpenampilan menarik, dia akan mencoba berpenampilan menarik. (Haha.)
    Suatu hari, keluarganya pindah ke Amerika, dan kami kehilangan kontak.
    Enam tahun kemudian, dia kembali untuk berkunjung. Kelompok mudika yang dulu sangat bersemangat untuk mengadakan reuni kecil. Maka kami bertemu lagi dengan “Brother Leo”.
    Saat saya melihatnya di reuni, saya tidak dapat mempercayai mata saya. Juga semua orang di ruangan itu. Brother Leo mengenakan kaos ungu terang dengan kalung emas di lehernya. Dan dalam bahasa gaul, dia menyapa kami, “Hey Dude!”
    Itu belum terlalu parah.
    Saat kami mengambil kembali rahang kami dari lantai, dia berkata, “Ayo jalan dan pestaaaaa. Kita cari cewek! Gile, gua suka cewek!”
    Perubahan itu tidak dapat dipercaya.
    Di mana pria pendoa, pendiam, rendah hati, murni yang kami kenal?
    Inilah yang saya pelajari dari hidup: Kita perlu berhati-hati membentuk dunia luar kita sebelum dia membentuk kita.

Apa Dua Kekuatan Terbesar Yang Membentuk Hidupmu?
    Charlie “Tremendous” Jones yang berkata bahwa Kamu akan menjadi total penjumlahan buku-buku yang kamu baca dan orang-orang di sekelilingmu dalam lima tahun.
    Saya percaya bahwa dua kekuatan terbesar yang membentuk hidup kita adalah relasi kita dan media kita. Saya ulangi: Jika kamu tahu bahwa dunia luarmu membentukmu, buat keputusan sekarang untuk membentuk dunia luarmu. Karena kamu bisa!
    Inilah sebuah cerita tentang seseorang yang tidak menggunakan kekuatan ini...


Cerita Seorang Raja Bijaksana Yang Sebenarnya Tidak Begitu Bijaksana
    Guiness Book of World Records mencatat bahwa tidak ada yang mengalahkan Raja Salomo bila berurusan dengan istri-istri. Pria ini memiliki 700 istri dan 300 selir.
    Percayalah, saya tidak akan mau menjadi dia pada Hari Valentine. Kacaunya! Saat berjalan mengelilingi istananya dia akan berkata pada yang satu, “Saya mencintaimu Lea,”; Dan kepada yang lain, “Saya mencintaimu Rachael,”; Dan kepada yang lain lagi, “Saya mencintaimu.... uh, Melissa atau Melanie?”
    Inilah yang dikatakan Alkitab: Adapun Raja Salomo mencintai banyak perempuan asing, padahal tentang bangsa-bangsa itu Tuhan telah berfirman kepada orang Israel: “Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan mereka pun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka.” Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta. (Berapa banyak dari kalian yang tahu bahwa hanya karena kamu jatuh cinta secara romantis kepada seseorang TIDAK berarti bahwa kamu harus bersama dengan orang itu?) Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada Tuhan, Allahnya, seperti Daud, ayahnya” (1 Raj 11:1-6).
    Manusia paling bijaksana di dunia tidak memilih relasinya dengan baik.
    Jika kamu tidak mau membuat kesalahan yang sama dengannya, biar saya bagikan kepadamu 3 langkah luar biasa untuk menciptakan dunia luarmu.


3 Langkah Luar Biasa Untuk Menciptakan Kembali Dunia Luarmu
    Saya jamin. Jika kamu melakukan 3 langkah ini, kamu tidak hanya akan bebas dari kebiasaan yang memperbudakmu, tetapi juga kamu akan benar-benar menumbuhkan dirimu dan memenuhi mimipi-mimpi terbesarmu.
    Langkah #1: Katakan Tidak kepada Orang Beracun
    Langkah #2: Katakan Ya kepada Orang Luar Biasa
    Langkah #3: Kendalikan Mediamu
Biar saya jelaskan langkah-langkah ini satu per satu...


Langkah #1: Katakan Tidak kepada Orang Beracun
Ada banyak tipe Orang Beracun, tapi biar saya fokuskan pada 6 tipe yang sebaiknya kamu hindari:
Orang Beracun #1: Mereka yang menambah ketergantunganmu
Orang Beracun #2: Mereka yang terus-menerus menyakitimu
Orang Beracun #3: Mereka yang mengendalikanmu lewat kekerasan
Orang Beracun #4: Mereka yang mengendalikanmu lewat manipulasi
Orang Beracun #5: Mereka yang melimpahkan tanggung jawab mereka kepadamu
Orang Beracun #6: Mereka yang mengeluh tentang hidup dan melemahkanmu
    Apa kamu punya Orang Beracun dalam hidupmu? Tuhan berkata, Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh (Mzm 1:1).
    Mari ikuti kata-kata bijaksana tersebut!
    Mari cari tahu apakah kamu memiliki Orang Beracun dalam hidupmu...


Orang Beracun #1: Mereka Yang Menambah Ketergantunganmu
    Kamu pasti tahu cerita ini dengan sangat baik karena terjadi terlalu sering.
    Teman saya “Jim” adalah seorang pecandu narkoba. Dia masuk panti rehabilitasi selama satu tahun. Selama setahun penuh, Jim tidak menyentuh narkoba. Dia pulang sebagai manusia baru.
    Beberapa hari setelahnya, seorang teman lama yang biasa memakai narkoba bersama Jim mengunjunginya di rumah dan menawarkan shabu kepadanya. Jim berkata tidak, “Saya tidak memakai itu lagi.” Tapi seiring bergulirnya hari, dia terus bertemu dengan teman lamanya. Hanya setelah tiga bulan, Jim menghirup shabu lagi—dan ketergantungannya bahkan menjadi lebih parah daripada sebelumnya.
    Pertanyaan: Apa yang menyebabkan kejatuhannya?
    Jawab: Dia membentuk dunia dalamnya, tapi dia tidak membentuk dunia luarnya.
    Dia perlu sekumpulan teman-teman yang baru. Dia perlu rencana perjalanan baru. Dia juga perlu hobi baru, musik baru, dan aktivitas-aktivitas baru...
    Cukup terlihat jelas. Jika kamu seorang alkoholik, berhentilah bergaul dengan teman-teman peminum. Bergaullah dengan teman-teman baru yang tidak minum. Jika kamu seorang penjudi, putuskan persahabatan dengan penjudi lainnya. Bergaullah dengan orang-orang yang tidak berjudi. Dan seterusnya.
    Banyak orang tidak menggunakan kekuatan mereka untuk memilih teman-teman mereka. Mereka hanya menerima orang-orang yang memanggil, mengunjungi, dan muncul di depan pintu mereka.
    Kesalahan besar. Jangan lakukan itu. Yesus berkata Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka (Mat 5:29).
    Keluarlah dan pilihlah orang-orang yang kamu cita-citakan. (Lebih banyak tentang ini nanti.)


Orang Beracun #2: Mereka Yang Terus-Menerus Menyakitimu
    Apa kamu menghindari bahaya?
    Jika kamu melihat seekor Doberman gila, dengan mulut berbusa, taring yang tajam, berlari kencang ke arahmu, akankah kamu lari secepat Flash? Atau akankah kamu berdiri di sana sambil tersenyum, mengulurkan tanganmu dan berkata, “Sini kitty, kitty...”
    Saya bertaruh kamu akan lari lebih cepat dari apapun yang pernah kamu lakukan selama hidupmu.
    Kecuali kamu mau mati.
    Buku Bijak berkata:
Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka. (Ams 22:3)
    Inilah fakta yang menyedihkan. Setelah bertahun-tahun saya memberikan konseling kepada sekumpulan orang, saya menyadari banyak orang yang ingin mati bila berhubungan dengan memilih pacar, suami, istri, partner bisnis, pemimpin spiritual, organisasi, dan teman.
    Karena mereka memilih pelaku kekerasan.
    Mereka dilukai secara fisik. Dilukai secara verbal. Dilukai secara emosional. Dilukai secara spiritual.
    Dan setelah sebuah relasi yang bersifat kekerasan hancur, mereka melompat ke relasi yang bersifat kekerasan yang lain. Gila, saya bilang. Tapi setelah 27 tahun pelayanan, ini lebih umum daripada yang kamu pikirkan.
    Saya hanya punya satu penjelasan untuk fenomena gila ini: Para korban suka menjadi korban. Kenapa? Mungkin karena mereka mau membayar dosa-dosa mereka. Atau mungkin mereka merasa mereka layak mendapat hukuman. Atau mungkin mereka merasa hebat terhadap pelaku kekerasan. Atau mungkin itulah cara mereka mendapat empati dari orang lain.
    Tapi ini gila.
    Biar saya teriakkan ini keras-keras: Hilangkan semua pelaku kekerasan dalam hidupmu!


Jangan Hanya Berdiri Di Sana—Lakukan Sesuatu!
    Jika pasangan hidupmu adalah seorang pelaku kekerasan, menjauhlah sejauh mungkin darinya. Saya tidak berkata bercerailah segera. Tapi jangan hidup dalam satu rumah dengan seorang pelaku kekerasan hingga orang itu mendapat pertolongan dan disembuhkan.
    Jika pacarmu adalah seorang pelaku kekerasan, apa yang kamu lakukan dengan terus bersama dengan orang itu? Kamu seharusnya meninggalkannya ketika terjadi kekerasan pertama.
    Jika organisasimu, kelompok terdekatmu, kelompok doamu, atau gerejamu merendahkan dirimu, memanipulasimu, mengeringkanmu, menyakitimu—mengapa kamu masih di sana? Carilah kelompok yang memberkati dan memeliharamu.
    Jika partner bisnismu mencuri darimu, menipumu, atau tidak menghormatimu—keluarlah, juallah, dan cari partner bisnis lain.
    Ingat: Ketika kamu bersama dengan seorang pelaku kekerasan, kamu menciptakan lebih banyak luka batin, dan luka batin akan menciptakan lebih banyak ketergantungan tersembunyi.
    Yesus berkata,
Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu (Mat 7:6). 
Kamu berharga. Kamulah mutiara. Jadi jangan buang dirimu kepada anjing dan babi.
    Bagaimanapun beberapa orang mungkin tidak terlihat jelas seperti pelaku kekerasan, tapi mereka melecehkanmu dengan cara yang tidak terlihat...

Orang Beracun #3: Mereka Yang Mengendalikanmu Lewat Kekerasan

    Ada orang-orang yang mengendalikanmu lewat serangan yang halus. Mereka mengintimidasimu. Mereka lebih besar. Mereka lebih mencolok. Mereka mengerikan. Mereka preman dalam pakaian yang indah.
    Pengendali ini bisa saja suamimu. Atau nenekmu. Atau temanmu. Atau bosmu.
    Biar saya certakan sebuah cerita yang saya baca akhir-akhir ini...
    Suatu hari, seorang pria muda berjalan di jalan yang gelap. Tiba-tiba, dari sebatang pohon Akasia, seorang pria tua dengan jubah hitam muncul. Matanya galak, wajahnya pucat, janggutnya tidak dicukur. Dia menyorongkan sebuah buku hitam kepada pria muda itu dan memerintahkan, “Kamu perlu membaca buku ini! Beli dengan harga P700.”
    Pria muda ini terkejut dan bergumam, “Saya tidak punya P700...” Tapi si pria tua berbicara dengan suara yang lebih keras, “Kamu perlu membaca buku ini! Berikan pada saya P700.” Maka dengan tangan gemetar, anak itu menyerah dan memberikan P700 kepadanya. Pria misterius itu menyerahkan buku hitam tersebut ke tangan anak itu dan berkata, “Apapun yang kamu lakukan, jangan pernah melihat halaman terakhir. Atau kamu akan menyesal.” Dia lalu berjalan melintasi lapangan di belakang mereka dan tiba-tiba menghilang.
    Pria muda ini pulang ke rumah, gemetar hingga ke ujung kaki. Pada malam harinya, dia mulai membaca buku itu. Melempar-lempar dan membalik-balik buku itu, anak ini hanya dapat memikirkan satu hal: Apa yang ada di halaman terkahir buku ini? Apa yang akan saya sesali dengan melihatnya?
    Akhirnya, dia tidak dapat menahan lagi. Dengan segenap keberaniannya, dia mengambil buku hitam itu. Dengan jari gemetar dia membuka halaman terakhir...
    Dan saat dia melihatnya, seketika, gelombang penyesalan memenuhinya!
    Halaman terakhir itu kosong.
    Kecuali sebuah catatan kecil berbunyi, “P49.50, Toko Buku Nasional.”
    Teman, jangan pernah terintimidasi untuk melakukan apa yang tidak ingin kamu lakukan.
    Karena seringkali, kamu akan kerampokan.


Orang Beracun #4: Mereka Yang Mengendalikanmu Lewat Manipulasi
    Ada Pengendali jenis lain yang tidak melakukannya dengan serangan tapi lewat manipulasi. Bahkan dalam cara yang lebih halus, mereka akan mengendalikanmu.
    Contoh saya adalah Delilah, kekasih Samson.
    Alkitab mengatakan Samson mencintai Delilah. Tapi tidak pernah dikatakan bahwa Delilah mencintai Samson. Sebaliknya, Delilah menggunakan Samson. Delilah memerlukan Samson. (Kapan kita akan sadar bahwa perlu berbeda dengan cinta?) Saat kamu membaca cerita itu, kamu sadar bahwa Delilah tidak pernah mencintai Samson sama sekali.
    Ingat, “Pengendali” adalah “Pemakai”, dan Delilah adalah Pengendali. (Apa kamu kenal seorang Pemakai dalam hidupmu?)
    Suatu hari, Delilah didekati pemimpin Filistin. Mereka hendak menangkap Samson tapi tidak bisa karena kekuatan magisnya. Maka mereka menawarkannya 1,100 Shekels dari masing-masing mereka jika dia dapat mengungkap rahasia kekuatan supernatural Samson.
    Maka dia pergi kepada Samson dan bertanya, “Bagaimana orang dapat menangkapmu?”
    Pada awalnya, dia berbohong. Samson berkata, “Jika kamu mengikatku dengan tali baru, aku akan sama lemahnya dengan manusia mana pun.” Dan ketika dia tidur, Delilah mengikatnya dengan tali baru dan memanggil para tentara pemimpin Filistin untuk menangkapnya. Tapi seperti memutuskan benang, Samson bebas dari tali-tali itu dan mengejar orang-orang itu.
    Bukankah itu bukti yang cukup atas pengkhianatan Delilah?
    Jika saya adalah Samson, saya akan berkata kepadanya dengan mudah, “Delilah, kamu seekor ular. Kamu tidak mencintaiku. Hubungan ini selesai. Pergi dari hidupku!”
    Tapi Samson tidak melakukannya. Dia mentoleransinya. Maka Delilah duduk di pangkuan Samson dan dengan tertunduk dan mimik terluka, dia berkata, “Kamu tidak mencintaiku, Samson...” (Jarinya mungkin bermain-main dengan rambut Samson.)
    “Tapi aku mencintaimu!” kata Samson membela diri.
    “Tidak, kamu tidak mencintaiku,” dengkurnya, “Kamu berbohong padaku. Kamu belum memberitahuku rahasia kekuatanmu.” (Pengendali suka membalik meja dan menunjukkan kesalahanmu, sementara menyembunyikan kesalahan-kesalahan mereka yang terlihat jelas.)
    Akhirnya, karena kegusaran, Samson berkata, “Ok, ok! Potong rambutku dan aku akan sama lemahnya dengan manusia mana pun.” Dan saat dia tidur, Delilah memotong rambutnya. Kita tahu akhir ceritanya. Samson ditangkap, matanya dicungkil, dan dia dipenjara hingga dia mati saat mendorong dua pilar.
    Karena Samson mencintai Delilah, dia begitu putus asa untuk percaya pada kebohongan bahwa Delilah juga mencintainya. Tapi dia tidak mencintainya.
    Siapakah Delilah-Delilah dalam hidupmu?
   Ini kebenarannya: Samson mungkin telah tertarik secara romantis kepada Delilah, tapi dia tidak benar-benar mencintai Delilah. Jika dia benar-benar mencintainya, dia akan memberitahunya dan mengusirnya. Itulah jenis cinta yang dibutuhkan Delilah.


Orang Beracun #5: Mereka Yang Melimpahkan Tanggung Jawab Mereka Kepadamu
    Suatu hari, seorang wanita sedang ngobrol dengan tetangganya.
    “Saya merasa sangat baik hari ini. Saya memulai pagi ini dengan sebuah tindakan murah hati yang tidak mementingkan diri sendiri. Saya memberi uang lima ribu peso kepada seorang pengemis.”
    “Wow. kamu memberi seorang pengemis lima ribu Peso?” tanya tetangganya, “Ya Tuhan, itu uang yang sangat banyak. Apa yang suamimu katakan?”
    “Oh, dia pikir itu hal yang pantas dilakukan,” katanya, “suami saya berkata, 'Terima kasih.'”
    Banyak orang seperti wanita itu. Mereka memiliki pengemis dalam kehidupan mereka, dan pengemis-pengemis ini adalah teman-teman dan keluarga.
    Dengan kata lain, mereka adalah inang bagi parasit.
    Ingat: Dalam biologi, parasit tidak akan ada tanpa sebuah inang. Jadi alasan adanya parasit adalah karena ada orang-orang yang suka menjadi inang.
    Apakah kamu seorang inang bagi parasit manusia? Seseorang yang bergantung kepadamu untuk uang? Atau untuk kebutuhan rumah tangga? Atau untuk pelayanannmu?
    Parasit manusia bukanlah seorang lumpuh yang berbaring di ranjang dengan selang makanan tertancap di kerongkongannya. Parasit ini sebaliknya adalah orang yang sehat yang ingin kamu bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Dia memandangmu sebagai penyelamat satu-satunya. Jika kamu tidak membantunya, dia akan mati.
    Jauh di dalam, kamu merasa digunakan. Kamu benar-benar ingin berkata “Tidak lagi!” tapi kamu tidak bisa karena kamu merasa bersalah. Dalam prosesnya, kamu telah kehilangan batasanmu. Saat itu terjadi, terdapat banyak sekali luka batin di dalam, dan kamu melarikan diri lewat ketergantungan tersembunyi.
    Kabar buruk: Kamu pikir kamu baik-baik saja, tapi sebenarnya sama sekali tidak.
   
Ada Perbedaan Antara Merasa Baik Dan Berbuat Baik
    Memberi kepada seorang parasit membuatmu merasa baik.
    Tapi itu tidak membuatnya baik. (Yep, ada sebuah perbedaan.)
    Itu meringankan rasa bersalahmu. Tapi kenyataannya, kamu menyebabkan lebih banyak kerusakan daripada kebaikan. Kamu sungguh seorang pencuri. Kamu mencuri harga diri mereka. Lebih dari itu, saat kamu mengambil konsekuensi buruk dari ke-tidak-bertanggung-jawab-an mereka lewat penyelamatan terus-menerus, kamu mengambil bahan bakar yang baru saja akan memaksa mereka untuk berubah.
    Beberapa orang membenarkan membantu seorang parasit dengan mengutip Galatia 6:2 saat St. Paulus berkata, “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu...” Tapi 3 ayat kemudian, St. Paulus juga berkata, “Tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.” Itu artinya jika seorang parasit meminta bantuanmu, cara terbaik untuk menolongnya adalah dengan berkata 'Tidak'. Saya banyak memberi. Memberi itu baik jika dalam keadaan yang sangat darurat. Tapi saya berhenti memberi jika kebutuhan sehari-harinya menjadi hal darurat. Karena kebanyakan dari pemberian saya terfokus pada mengajarkan orang untuk memancing, bukan hanya memberi ikan. Saya memberi jika saya tahu orang itu akan belajar bagaimana berdiri di atas kakinya sendiri suatu hari nanti.
    Akhirnya, inilah Orang Beracun jenis terakhir yang perlu kamu hindari...


Orang Beracun #6: Mereka Yang Mengeluh Tentang Hidup Dan Melemahkanmu
    Ada orang-orang yang selalu negatif—dan mereka menghisap energimu hingga habis. Percayalah, setelah bicara pada mereka, kamu merasa seolah-olah langit lebih gelap, dunia lebih buruk, dan hidup lebih menyedihkan daripada sebelumnya. Pengeluh mengeluh tentang segalanya. Cuaca panas. Cuaca dingin. Bos. Uang. Pemerintah. Lagi dan lagi dan lagi. Tidak pernah berhenti. Pengeluh itu buruk, tapi pelemah lebih buruk lagi.
    Pelemah adalah pengeluh juga, tapi bukannya mengkritik dunia, mereka mengkhususkan diri dalam mengkritikmu. Saat kamu menyebutkan sebuah rencana, sebuah mimpi, atau sebuah ide original, kamu akan mendengar pelemah berkata, “Kamu? Melakukan itu?” Dia akan memutar matanya, menggelengkan kepalanya, dan menyeringai. Orang-orang congkak yang tahu segalanya percaya mereka mengenalmu dan masa depanmu lebih daripada Tuhan. Di hadapan seorang pelemah, kamu akan tetap kecil. Lihatlah “teman-teman” si pelemah, dan kamu akan menemukan orang-orang “kecil” lain yang membungkuk pada kehebatannya.
    Pengeluh akan mencuri sukacitamu. Pelemah akan mencuri mimpi-mimpimu. Jika kamu tidak berhati-hati, mereka akan menularkan virus mereka kepadamu dan kamu akan menjadi pengejek profesional seperti mereka.
    Pengeluh dan pelemah adalah pecundang. Jika teman-temanmu adalah pecundang, carilah teman-teman baru. Saya tidak berkata bahwa kamu harus membuang mereka. Tuhan ingin kamu mencintai mereka. Tapi kamu tidak perlu bergaul dengan mereka. Sebaliknya, bergaullah dengan orang-orang yang menghormatimu. Dan orang-orang yang memberimu inspirasi. Dan orang-orang yang mengerahkan tenaga mereka untuk membangun bukannya menghancurkan. Dan orang-orang kehidupan dan keindahan dan cinta.


Ngomong-Ngomong, Apakah Kamu Orang Beracun?
    Menghindari orang beracun itu sulit.
    Menghindar menjadi orang beracun bahkan lebih sulit lagi.
    Bagaimana jika kamu adalah seorang pelaku kekerasan, pengendali, atau pemanipulasi, atau parasit, atau pengeluh, atau pelemah?
    Tanya orang-orang terdekat untuk meminta pendapat jujur mereka.
    Jika mereka berkata “Ya”, kuasailah tingkah lakumu, cepat. Dan mulailah melakukan sesuatu!
    (Apa yang akan kamu lakukan adalah di luar lingkup artikel ini, tapi saya berharap dapat mendiskusikannya lain waktu.


Langkah #2: Katakan Ya pada Orang Luar Biasa
    Apa yang membentukmu sekarang?
    Sang Buku Kebaikan berkata: Besi menajamkan besi; orang menajamkan sesamanya (Ams 27:17). Jika kamu adalah orang luar biasa, maka orang-orang luar biasa inilah yang menajamkanmu...
    Orang Luar Biasa #1: Mereka Yang Memeliharamu Secara Emosional
    Orang Luar Biasa #2: Mereka Yang Memeliharamu Secara Spiritual
    Orang Luar Biasa #3: Mereka Yang Memeliharamu Secara Intelektual
    Orang Luar Biasa #4: Menghabiskan Waktu Dengan Tuhan, Siapa Lagi?


Orang Luar Biasa #1: Mereka Yang Memeliharamu Secara Emosional
    Benar-benar hanya ada dua tipe orang hebat di dunia ini.
    Orang hebat tipe pertama: Setelah berbicara dengannya, kamu terpesona akan kehebatan orang itu. Kamu dikecilkan oleh kehebatannya.
    Orang hebat tipe kedua: Setelah berbicara dengannya, kamu terpesona akan kehebatanmu. Kamu melangkah keluar sebagai seorang raksasa dirimu sendiri—sama besarnya atau bahkan lebih besar daripada orang hebat itu.
    Bergaullah dengan orang hebat tipe kedua.
    Bergaullah dengan orang-orang yang membuatmu merasa penting, dihormati, dan berharga.
    Salah seorang mentor saya memiliki cara yang luar biasa untuk membuat saya merasa penting.
    Dia benar-benar seorang Milyuner. Tapi dia memperlakukan saya seolah-olah saya lebih penting darinya. Inilah hal-hal kecil yang dia lakukan sehingga saat meninggalkannya membuat saya percaya bahwa saya spesial. Caranya mendengarkan saya. Caranya menghormati pendapat saya. Caranya tidak tertawa saat saya menanyakan pertanyaan bodoh. Bahkan kesopanan dan penghormatan biasa. Sebagai contoh, setelah pertemuan kami di kantornya, dia akan berjalan bersama saya sampai ke mobil saya. Dia tidak akan meninggalkan saya hingga dia tahu saya di dalam mobil saya dan siap pergi. Hal-hal kecil yang memberi tahu saya bahwa saya orang hebat.
    Carilah orang-orang seperti itu.


Orang Luar Biasa #2: Mereka Yang Memeliharamu Secara Spiritual
    Kamu adalah jiwa dengan keberadaan duniawi sementara.
    Jadi, kebutuhanmu yang paling penting adalah untuk dipelihara secara spiritual.
    Itulah sebabnya saya berkhotbah di FEAST setiap Minggu. Saya percaya bahwa banyak orang yang tidak ternutrisi secara spiritual dan mereka membutuhkan Firman Tuhan dalam kehidupan mereka.
    Tapi lebih daripada pengetahuan, seorang pemimpin rohani seharusnya menyuapimu dengan cinta Tuhan.
    Bagaimana? Dengan cintanya sendiri kepadamu.
    Dia tidak mengajarimu karena kesombongan. Dia mengajarimu karena cinta.
    Ke sanalah saya ingin bertumbuh—dan ya ampun betapa panjangnya jalan yang haru saya lalui. Saat seorang pemimpin rohani percaya dia lebih baik, lebih suci, dan lebih benar dari siapa pun dalam gereja, berhati-hatilah. Seorang pemimpin rohani yang baik mengetahui kesalahannya dan menyadarinya sebelum orang lain.
    Carilah sumber nutrisi spiritual tetapmu.


Orang Luar Biasa #3: Mereka Yang Memeliharamu Secara Intelektual
    Kamu punya mimpi?
    Siapakah orang-orang dalam dunia yang telah memenuhi mimpimu?
    Bergaullah dengan mereka—ambil otak mereka.
    Dengarkan percakapan mereka. Baca buku mereka. Ikuti seminar mereka.
    Ada dua tipe guru. Tipe guru pertama memiliki banyak buku pengetahuan dan tidak yang lain. Tipe guru kedua memiliki pengalaman pengetahuan, dengan lumpur di sepatunya, lepuh di tangannya, dan bekas luka di hatinya. Dialah orang yang mengajar dari pengalaman perangnya. Carilah guru tipe kedua. Sebagai contoh, jika saya ingin mengembangkan organisasi saya, Light Of Jesus, ke level selanjutnya, saya harus mencari guru tipe kedua: Mereka yang benar-benar telah membangun organisasi besar.
    Maka suatu hari, saya mengunjungi Bro. Mike Velarde dari El Shaddai untuk belajar darinya. Bro. Mike dan saya mungkin memiliki gaya dan kepercayaan yang berbeda (dan selera fashion yang berbeda juga), tapi sebagai seorang pengorganisasi, tidak ada yang dapat menyerupai kemampuannya untuk mengumpulkan satu juta orang di Luneta. Bro. Mike telah dengan sangat baik dan murah hati pada saya, membagikan pengalamannya yang sangat banyak. Kamu mungkin tidak akan suka kaos barong merahnya, tapi jika kamu ingin mendirikan organisasi sebesar El Shaddai (mungkin dengan 8 juta anggota), saya rasa kamu dapat mengenakan kaos barong apapun yang kamu inginkan.
    Dan dapatkah kamu percaya? Saya juga mempelajari strategi membangun gereja dari Pastor Apollo Quiboloy, sekarang memimpin 3 juta anggota dalam 22 tahun yang singkat. Saya tidak setuju dengan teologinya. Saat kami bersama, Uskup teman saya dan saya berdebat dengannya tentang doktrin-doktrinnya. (Kami bertemu secara tetap karena kami semua anggota Dewan Presidensial untuk Valus Formation di Malacanang, bekerja untuk negara.) Tapi itu tidak menghentikan saya untuk mengagumi keluarbiasaan Pastor Apollo dalam kepemimpinan. Maka saat kami bertemu, di samping debat teologi, saya duduk bersamanya dan mempelajari strategi-strateginya dalam membangun gereja. Pastor Apollo juga sangat murah hati pada saya, dan saya belajar banyak dalam hal pertumbuhan gereja.
    Saya juga memiliki mentor finansial yang merupakan jutawan dan milyuner.
    Saya memiliki mentor keluarga yang hidup dengan cinta dan kesucian yang besar dan menginspirasi saya untuk melakukan hal yang sama.
    Pergi dan carilah orang-orang luar biasa dalam hidupmu.

Jangan Menyimpang Saat Teman-Teman Lamamu Cemburu

    Saya telah memperluas lingkaran dalam teman-teman saya.
    Terkadang, lingkaran dalam saya yang lama menjadi cemburu. Mereka berkata dalam Bahasa Tagalog, “Bo, others ka na.” Mereka berkata bahwa saya telah menggantikan mereka.
    Tidak, saya tidak melakukannya. Saya tidak menggantikan lingkaran dalam saya, saya hanya memperluasnya.
    Lingkaran dalam saya sekarang terdiri dari para pemimpin, pengkhotbah, pebisnis, investor real-estate, uskup, master komputer, ahli marketing, pendidik, penulis, dll.
    Kenyataannya, jika kamu ingin tetap bertumbuh, kamu harus tetap menumbuhkan lingkaran dalam teman-temanmu. Tidak ada cara lain.
    Satu hal terakhir: Periksa pendapatan orang-orang yang kamu ajak bergaul. Biasanya, kamu akan meniru rata-rata pemasukan masing-masing. Jika kamu mau meningkatkan pendapatanmu, bergaullah dengan orang-orang yang mendapat, menabung, menginvestasi, dan memberi lebih darimu. Belajarlah dari mereka!

Orang Luar Biasa #4: Menghabiskan Waktu Dengan Tuhan, Siapa Lagi?

    Perlukah saya berbicara lebih banyak lagi?
    Yesus telah berkomitmen dengan doa harian: Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia (Yesus) bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana (Mrk 1:35).
    Tapi inilah permasalahannya: Banyak orang bukan menyembah Tuhan, melainkan karikatur Tuhan.
    Jika kamu benar-benar memeriksa Tuhan mereka, Dia itu kejam, penghukum, insecure, dan seorang tirani.
    Kita perlu mengubah gambaran kita tentang Tuhan, karena kita akan menjadi tepat seperti Tuhan yang kita sembah. Pada akhirnya, kita juga menjadi kejam, penghukum, insecure, dan seorang tirani. (Pernahkah kamu bertanya mengapa banyak orang rohani adalah refleksi menyedihkan dari cinta Tuhan? Inilah alasannya.)
    Kita akan mendiskusikan ini lebih lanjut dalam artikel yang lain segera.


Langkah #3: Kendalikan Mediamu
    Ingat dua kekuatan luar biasa yang membentuk hidupmu.
    Pertama relasi.
    Kedua media.
    Seperti relasi, katakan “Tidak” pada media beracun dan katakan “Ya” pada media luar biasa.
    Bila berurusan dengan media, ingat satu hal yang sangat penting: Kamu memiliki waktu yang sangat terbatas. Bill Gates, orang terkaya di dunia, memiliki jumlah waktu yang tepat sama dengan seorang pengemis. Saat berurusan dengan waktu, kita semua sama.
    Jadi, bila kamu menonton tayangan TV yang bodoh, tidak berguna, dan gila seperti yang ditayangkan sekarang ini, kamu membuang waktumu yang berharga—dan uang. Waktu yang seharusnya kamu gunakan untuk media yang dapat lebih memberi inspirasi.
    Orang-orang heran mengapa tidak ada pertumbuhan dalam hidup mereka.   
    Satu jawaban yang mungkin: Karena mereka menghabiskan sangat banyak waktu di depan TV. Siaran siang. Gosip artis. Sinetron.
    Saya sebaliknya mendesakmu untuk membaca buku yang memberi inspirasi. Atau menonton film-film bermakna. Ata mendengarkan percakapan luar biasa. Jika kamu mau bertumbuh, kendalikan mediamu.


Kesimpulan: Apakah Kamu Orang Samaria Yang Baik Hati?
    Saya tahu.
    Bagian paling kontroversial dalam artikel ini adalah mengatakan “Tidak” pada Orang Beracun.
    Tapi biar saya tekankan bahwa salah satu alasan mengapa kita memiliki ketergantungan tersembunyi adalah karena kita lari dari luka yang disebabkan tidak  memiliki batasan pribadi di dalam diri kita. Kita terus mengatakan ya pada orang beracun, kita sebenarnya kehilangan kendali atas hidup kita. Kehilangan kontrol ini membuat kita marah dan secara tidak sadar membawa kita ke mana kita sepertinya merasa punya kontrol—ketergantungan tersembunyi kita. Saat kita minum, atau merokok, atau berzinah, atau terus-menerus belanja, atau terus-menerus makan, atau menjadi kecanduan secara religius, kita merasakan sesuatu yang mirip dengan kontrol. (Tentu saja, itu palsu. Kita sama sekali tidak punya kontrol atas area ini sebenarnya.)
    Teman, kamu perlu menetapkan batasanmu. Atau dunia akan menaklukkanmu. Jika kamu tumbuh dengan mendengarkan khotbah tentang Orang Samaria Yang Baik Hati di gereja, kamu dilatih untuk membantu orang dan merasa bersalah jika tidak melakukannya.
    Ingat cerita itu? Seorang pria dirampok dan ditinggalkan sekarat di jalan. Seorang Pendeta dan seorang Guru Hukum lewat dan tidak peduli untuk berhenti. Orang Samaria ini bagaimanapun juga berhenti, membalut luka-lukanya, membawanya ke sebuah penginapan, dan membayar semua biayanya.
    Wow, pria yang menyenangkan sekali.
    Tapi kita terbiasa mengabaikan sebuah bagian yang sangat penting dari cerita itu: Setelah membantu pria yang terluka itu, Orang Samaria Yang Baik Hati sebenarnya meninggalkannya kepada penjaga penginapan karena dia harus mengurus bisnisnya sendiri! Dia tidak melupakan kehidupannya sendiri! Bagaimana mungkin dia tetap membantu jika dia tidak tetap menerima dari bisnisnya sendiri?
    Ini pelajaran yang lain: Orang Samaria Yang Baik Hati juga meminta bantuan dari orang lain—si penjaga penginapan. Karena kamu tidak membantu sendirian. Kamu bukan superman.
    Teman, jadilah Orang Samaria Yang Baik Hati.
    Karena Orang Samaria Yang Baik Hati tidak hanya mencintai orang lain.
    Dia juga mencintai dirinya sendiri.
    Temanku, jika kamu ingin menciptakan dunia dalam yang baru, kamu perlu menciptakan dunia luar yang baru. Yesus berkata, Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantognya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.
    Tuhan sedang memberi anggur baru untuk hidupmu.
    Buatlah kantong yang baru!


Saya tetap sahabatmu,





Bo Sanchez
-translated by hiLda 2009-


NB:
  1. Judul original artikel karya Bo Sanchez: "Love The Sinner And The Saint Within". Untuk membacanya, silakan cari di kotak Google Custom Search di sebelah kanan.
  2. Download PDF-nya di sini. Bila kamu merasa diberkati, bagikanlah tulisan ini ke teman-temanmu. GBU alwayz... ^^





Bookmark and Share
Baca selengkapnya...

01 September 2009

Cintai Pendosa dan Santo/Santa Di Dalam

Apa Kamu Ingin Menghilangkan Kebiasaan Burukmu yang Menghancurkan?
Cintai Dirimu Sendiri.
Bagian 3 dari 8 seri Bagaimana Menghilangkan Kebiasaan Buruk Sekarang!
by Bo Sanchez

Dapatkah kamu percaya?
Saya telah berkhotbah selama 27 tahun sekarang.

Dan dalam 15 tahun pertama pelayanan berkhotbah saya, dari 1979 hingga 1994, saya tidak pernah berkhotbah sekali pun tentang “cintai dirimu sendiri”. Jika kamu meragukan saya, lihatlah catatan khotbah saya dan kamu tidak akan menemukan apa pun tentang ide ini. Nada. Zero. Zilch. Zip. Mengapa?

Karena saya merasa bahwa mencintai diri sendiri adalah kata lain untuk mengatakan “keegoisan”. Jadi jika kamu memberi tahu saya bahwa suatu hari saya akan menulis sebuah artikel tentang mencintai diri sendiri, saya akan menyebutmu gila. “Fitnah!” akan saya katakan kepadamu dengan semangat dengusan seekor banteng.

Begitulah saya menginterpretasikan apa yang Yesus katakan dalam Alkitab, “Jika kamu ingin menjadi muridku, panggullah salibmu, sangkal dirimu, dan ikuti aku.” Karena Yesus ingin kita mati untuk diri kita sendiri, bagaimana mungkin saya memberi tahu orang untuk mencintai dirinya sendiri? Tidakkah itu adalah sungguh-sungguh kebalikan dari apa yang Yesus ingin kita lakukan?

Inilah kepercayaan saya dulu: DIRI SENDIRI adalah musuh dari TUHAN. Jadi mengapa mencintainya?

Jadi saya memberi tahu orang untuk melupakan kebutuhannya sendiri—bahkan kebutuhan mereka yang paling mendasar, sah, dan masuk akal. Karena jika Yesus memberikan hidup-Nya di kayu salib untuk kita, bagaimana bisa kita tidak melakukan sebaliknya?


Saya Mencoba Untuk Mencintai Tuhan—Tapi Saya Merasa Sengsara. Apa yang Salah?
Tapi sepanjang jalan, saya mengalami masalah.
Saya mencoba untuk mencintai Tuhan, tapi seoah-olah saya menabrak tembok bata. Saya gagal dan saya tidak bisa mengerti mengapa saya merasa sangat sengsara. Saya akan memberikan segala-galanya untuk Dia, jadi mengapa saya merasa kosong dan terasingkan?
Dan inilah masalah saya yang lebih besar: Mengapa saya masih diperbudak oleh berbagai macam ketergantungan tersembunyi?

Sepanjang jalan, saya juga bertemu dengan banyak orang baik seperti diri saya sendiri. Orang-orang baik, luar biasa, spiritual yang ingin megikuti Tuhan. Tapi mereka juga terlalu terperosok dalam ketergantungan yang membuat mereka hancur.

Apakah kehidupan Kristiani.... seburuk ini?
Apa yang salah dengan kita?
Lalu ada “kunjungan Tuhan” spesial untuk saya.

Saat-saat supernatural dalam doa yang membuat saya terpana. Ini adalah saat-saat di mana saya merasa Tuhan merasuk dalam sistem kepercayaan saya—di mana Dia akan hanya mencintai saya. Tidak ada jika, tidak ada tapi, tidak ada persyaratan. Dia akan mencintai saya apa adanya, di mana adanya. Saya akan merasa sangat dicintai, saya tidak dapat memahaminya.
Dan yang menakutkan saya, soelah-olah Dia mengundang saya untuk mencintai diri saya sebaik adanya, apa adanya, di mana adanya. Tentu saja, saya tidak dapat memahaminya. Itu benar-benar bertolak belakang dengan teologi legal saya yang kaku, maka saya akan “membuang” suara hati itu. Bukankah saya itu musuh? Bukankah saya pendosa yang perlu ditertibkan, dan dihukum? Apa itu pemikiran “cintai saja diriku apa adanya, di mana adanya”?
Penyimpangan!

Tapi seiring berjalannya tahun, saya mulai mengerti.
Butuh 10 tahun kemudian—dari 1990 hingga 2000—untuk penyembuhan ini terjadi...

Menyangkal Diri Sendiri? Tidak Ada DIRI SENDIRI Untuk Disangkal!
Pelan-pelan, saya mulai mengerti mengapa saya tidak dapat mencintai Tuhan.
Bagaimana mungkin saya dapat menyangkal diri saya sendiri jika saya tidak memiliki DIRI SENDIRI?

Bagaimana mungkin saya mati untuk diri saya sendiri jika tidak ada yang hidup dalam diri saya?
Bagaimana mungkin saya berserah jika tidak ada yang dapat diserahkan?

Biar saya jelaskan: Jauh di dalam, saya hancur. Saya tidak pernah menghargai diri saya sendiri. Saya tidak pernah merasa baik tentang diri saya sendiri. Saya dipenuhi rasa malu. Maka untuk menutupi rasa malu saya, saya mencoba untuk menjadi baik. Untuk mengisi kebutuhan cinta saya, saya mencoba untuk mencintai Tuhan. Tapi semakin saya mencoba, semakin saya merasa kosong...

Sekarang, saya sadar bahwa saya tidak akan pernah bisa memberi apa yang tidak saya miliki.
Saya tidak dapat mencintai Tuhan—atau orang lain untuk masalah itu—jika saya tidak terlebih dahulu mencintai SAYA.

Ayat favorit saya dalam Alkitab? Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita (1 Yoh 4:19). Itu sangat benar! Satu-satunya cara agar saya dapat mencintai Tuhan adalah jika saya menerima cinta-Nya untuk saya. Dan cinta-Nya yang begitu kuat lah yang akan mengubah saya. Hanya dengan itu saya dapat mencintai-Nya.
Ini pelajaran yang saya dapat dari Yudas Iskariot.

Mengapa Kita Tidak Berdoa Kepada St. Yudas Isakriot?
Apa kamu pernah mempertanyakan pertanyaan ini?
Mungkin tidak.
Karena dalam pikiranmu, kamu menerima saja bahwa Yudas membusuk di Neraka.
Karena dia mengkhianati Yesus.
Saya mengharapkan yang lain.

Apakah Yudas membusuk di Neraka atau tidak adalah pertanyaan yang tidak berani saya jawab. Tapi saya memiliki sebuah jawaban untuk mengapa orang Katolik tidak berdoa kepada St. Yudas Iskariot. Tidak, itu bukan karena dia mengkhianati Yesus.

Karena jika kamu membuka Alkitab-mu, kamu sadar bahwa buku itu terisi penuh dengan pengkhianat dan pembunuh dan pezinah dan pembohong dan penipu... Alasan mengapa orang Katolik tidak berdoa kepada seorang St. Yudas Iskariot adalah sederhana: Karena Yudas tidak membiarkan Tuhan untuk mencintainya. (Ngomong-ngomong, saya tidak membagikan kepadamu sesuatu yang saya ambil dari Katekismus atau dari sebuah doktrin. Ini hanyalah kepercayaan saya sendiri yang kuat.)

Itu adalah pesan tepat dari cerita penyangkalan Petrus. Dia menyangkal Yesus juga (dan tiga kali melakukannya!), tapi malah berakhir menjadi Paus pertama. Mengapa?
Karena Petrus mencintai pendosa dan santo di dalam. Dia menyesal, mengampuni dirinya sendiri, dan kembali kepada Tuhan.

Yudas tidak. Sebaliknya, dia membunuh dirinya. Alkitab mengatakan, Maka Yudas melemparkan uang perak itu kedalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri (Mat 27:5).

Yudas tidak menjadi santo bukan karena dia mengkhianati Yesus.
Yudas tidak menjadi santo karena dia tidak belajar untuk menerima cinta Tuhan.
Jadi, dia tidak pernah belajar bagaimana mencintai dirinya sendiri.

Apakah Kamu Membunuh Dirimu Sendiri?
Dalam artikel saya yang terakhir, saya berkata, Jangan berfokus pada ketergantunganmu.
Karena jika kamu berfokus pada ketergantunganmu, kamu akan berakhir dalam keputusasaan. Dan keputusasaan adalah akhir jalan.

Seperti Yudas, banyak orang melakukan beberapa tindak bunuh diri. Mereka mungkin tidak membunuh diri mereka secara fisik, tapi dalam keputusasaan mereka, mereka membunuh mimpi mereka, atau mereka membunuh relasi mereka, atau mereka membunuh berkat-berkat yang Tuhan ingin berikan pada mereka.

Kamu perlu mengetahui ketergantunganmu (jangan menyangkalnya), tapi kamu tidak perlu bermeditasi untuk itu. Matamu seharusnya tetap memandang cinta Tuhan untukmu.
Fokus pada mimpi Tuhan untukmu.

Dan kamu dapat melakukan itu jika kamu mencintai dirimu sendiri.
Mencintai dirimu sendiri berarti mencintai pendosa dan santo/santa di dalammu.
Kamu adalah campuran dari baik dan jahat, dan kamu perlu mencintai campuran itu.

Kecuali Kamu Mencintai Dirimu Sendiri, Kamu Melompat Dari Satu Ketergantungan Tersembunyi Ke Ketergantungan Yang Lain
Kecuali ini terjadi, ketergantunganmu tidak akan pernah pergi.
Saat kita tidak mencintai diri kita sendiri, Bejana Cinta kita membangkitkan emosi yang menyakitkan. Jadi kita dapat menghentikan satu ketergantungan hanya untuk menggantikannya dengan yang lain, mungkin sebuah ketergantungan lain yang lebih tersembunyi lagi. Saya tahu seorang mantan peminum dan perokok yang, setelah membuang sifat-sifat buruk ini, menggantikannya dengan ketergantungan lain yang lebih dapat diterima, seperti gila kerja dan pengesahan religius, atau kecanduan makan atau kecanduan TV.
Jika kamu ingin menghilangkan kebiasaan buruk yang merusak, kamu perlu mencintai dirimu sendiri.

Bagaimana kamu mencintai dirimu sendiri?
Bagaimana kamu mencintai santo/santa dan pendosa di dalam?
Biar saya bagikan kepadamu empat cara hebat untuk mencintai dirimu sendiri yang akan mengubah hidupmu selamanya:

  1. Ampuni dirimu sendiri
  2. Terima kelemahanmu
  3. Rasakan perasaaanmu
  4. Percayai kebutuhanmu
Biar saya jelaskan semua ini kepadamu satu per satu...

1. Ampuni Dirimu Sendiri
Selama bertahun-tahun, saya jatuh dalam dosa kebiasaan seksual. Dan saat saya melakukannya, saya mengalami masa-masa yang sulit untuk percaya Tuhan akan tetap mengampuni saya. Saya dipenuhi dengan kejijikan. Saya amat jenuh dengan dosa saya, saya kira Dia juga jenuh terus menerus mengampuni saya.

Tetapi setiap kali saya berdoa, sesuatu dalam diri saya akan berkata, “Tuhan tidak seperti itu.” Dan jauh di dalam hati saya, saya akan mendengar suara-Nya berkata, “Bo, tidak ada yang kau lakukan yang dapat mengurangi cinta-Ku padamu.”

Kata-kata ini membara di dalam saya. Saya mencari dalam Alkitab dan menemukan kata-kata ini... dan menuntutnya untuk diri saya.


Sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka. (Yer 31:34)


Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu. (Yes 43:25)


Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. (1 Yoh 1:9)


Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. (Rom 8:1)

Pada akhirnya, cinta yang luar biasa inilah yang menyembuhkan saya dari ketergantungan saya.

Dapatkah Kamu Se-Pemaaf Itu Kepada Dirimu Sendiri?
Dalam sebuah pertemuan besar, seorang wanita muda datang kepada saya dan bertanya, “Dapatkah kamu mendengarkan pengakuan saya?” Saya menggelengkan kepala saya, “Saya minta maaf, saya bukan pastor.” Tapi saya melihat keputusasaan dalam matanya saat dia memberi tahu saya, “Tapi saya tetap bisa mengakui dosa-dosa saya kepadamu?”

“Saya dapat mendengarkanmu, berdoa untukmu, tapi saya tidak dapat menghapuskan dosa-dosamu,” kata saya.

Dia berkata, “Tidak apa-apa. Saya hanya butuh seseorang untuk berbicara kepada saya...” Kami berjalan ke pojok aula dan dia mencurahkan isi hatinya pada saya, membagikan rasa bersalahnya kepada saya. Saat dia melakukannya, saya merasakan sebuah desakan dari Tuhan untuk memberi tahunya, “Temanku, Tuhan mencintaimu lebih dari yang dapat kamu bayangkan,” dan dia mulai menangis hampir tidak terkontrol.

Dia berkata, “Bo, saya tahu Tuhan mencintai saya. Tapi saya tidak mencintai diri saya sendiri. Saya tahu Tuhan mengampuni saya. Tapi saya tidak bisa mengampuni diri saya sendiri atas apa yang telah saya lakukan.”

Bertahun-tahun, saya bertemu banyak orang seperti dia yang telah meminta pengampunan Tuhan, tapi nampaknya tidak bisa mengampuni dirinya sendiri. Bahkan jika Alkitab berkata, Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati (Luk 6:36), sungguh aneh bagaimana manusia tidak mengampuni diri mereka sendiri.

Jadi saya memberi tahunya, “Maka kamu sangat bangga akan dosamu.”
Dia membelalakan matanya, jelas-jelas terkejut.
“Apa yang kau katakan sekali lagi?” tanyanya.

Apa Kamu Bangga Akan Dosamu?
Saya memberi tahunya, “Kamu jatuh dalam kesombongan 3 kali. Pertama, kamu sepertinya berpikir bahwa dosamu lebih besar daripada cinta Tuhan untukmu. Itu kesombongan. Teman, cinta Tuhan lebih besar dari dosamu...”

“Dan kedua, kamu sepertinya berpikir bahwa standar moralmu lebih tinggi daripada standar moral Tuhan. Itu kesombongan. Biarkan Dia mencintaimu dalam kehancuranmu. Dan izinkan dirimu untuk mencintai KAMU. Dan ketiga....

“Apa aku mendengarnya dengan benar? Izinkan diri saya untuk mencintai saya?”
Saya tahu kata-kata itu baru untuknya.
“Ya! Dan ketiga, selama ini, kamu berfokus pada dosamu. Apakah saya benar?”
Dia mengangguk.

“Kamu pikir Tuhan mau kamu bersedih dan berkubang dalam perasaan bersalah? Kamu salah. Saat kamu berfokus pada dosamu, kamu tidak berfokus pada Tuhan. Fokus pada Tuhan. Fokus pada cinta Tuhan untukmu. Atau kamu akan jatuh dalam keputusasaan.” Saya mulai berpikir tentang Yudas dan bagaimana keputusasaan membunuhnya.

Alkitab berkata Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan (Ams 16:18).

Bagaimana kita jatuh? Biar saya jabarkan...

Apa yang Terjadi Jika Kamu Tidak Mengampuni Dirimu Sendiri
Jika kamu tidak mengampuni dirimu sendiri, kamu mungkin mendapat masalah-masalah ini...

  • Kamu akan memiliki perasaan bersalah yang tidak terselesaikan di dalammu
  • Kamu akan terus mengingat kegagalan di masa lalu
  • Kamu akan menjadi pesimis dan negatif, atau bahkan menderita depresi kronis
  • Kamu akan membalas dendam pada dirimu sendiri pada waktu-waktu yang lain
  • Kamu akan menunjukkan kelakuan yang menghancurkan dirimu sendiri>
  • Kamu akan tidak menghargai dirimu sendiri
  • Kamu akan tidak peduli pada dirimu sendiri dan kebutuhanmu
  • Kamu akan menjadi defensif dan menjauhi orang lain
  • Kamu akan dikontrol oleh ketakutanmu akan kegagalan dan penolakan
  • Kamu akan kehilangan emosi di mana sedikit atau tidak ada emosi sama sekali yang kamu tunjukkan
  • Kamu akan curiga tentang motif orang lain saat mereka menerimamu
  • Kamu akan mengalami permusuhan yang kronis, sarkasme, dan sinisme
  • Ini adalah hidup yang menyedihkan!
Buat keputusan sekarang untuk mengampuni dirimu sendiri sekarang.

Sebelum Yang Lain, Bedakan: Apakah Mereka Dosa Sungguhan Atau Dosa Buatan
Bahkan sebelum kita mengampuni diri kita—atau bahkan meminta pengampunan dari Tuhan—jawab satu pertanyaan. Apakah kamu sungguh telah berdosa terhadap Tuhan? Atau apakah kamu hanya tidak dapat memenuhi standar orang lain?

Terkadang, kita dapat membuat diri kita merasa bersalah dalam waktu yang lama dengan membuat banyak peraturan yang tidak pernah Tuhan ingin kita buat.

Sebagai contoh, pada tahun 1980, saya biasanya mengajar anggota komunitas saya aturan spiritual ini: Berdoa satu jam setiap hari, membaca Alkitab satu jam setiap hari, dan membaca buku spritual lainnya satu jam setiap hari—totalnya 3 jam sehari. Saya juga menyemangati mereka untuk pergi ke Misa harian, Rosario harian, dan datang satu jam sebelum Sakramen Ekaristi. Saya masih seorang remaja muda saat itu, dan saya tentu saja dapat melakukan semuanya itu, tapi saya kaget pada kenyataan bahwa anggota saya memiliki pekerjaan dan anak-anak untuk diurus. Wow, saya mengikutsertakan mereka semua dalam perjalanan rasa bersalah dalam waktu yang lama! (Ampuni saya, Tuhan.) Tidak ada satu pun dari mereka dapat memenuhi standar saya. Tapi peraturan-peraturan yang saya buat itu hanyalah milik saya, bukan peraturan Tuhan. (Para pemimpin perlu berhati-hati agar tidak membuat orang putus asa, atau kita merampok sukacita kehidupan mereka bersama Tuhan.)

Saya juga ingat seorang wanita yang merasa bersalah karena mengecewakan suaminya lagi dan lagi. Dai akan terus-menerus meminta maaf kepada Tuhan karena menjadi istri yang buruk. Tapi saat dia mendeskripsikan suaminya pada saya, saya langsung tahu bahwa dialah masalahnya. Dia ingin pakaiannya disetrika dengan cara tertentu, telurnya dimasak dengan cara tertentu, korannya diletakkan di atas meja setiap pagi dengan cara tertentu. Dan jika istrinya tidak melakukannya dengan cara tertentu itu, dia melabeli-nya sebagai istri yang mengecewakan. Tidak benar! Saya memberi tahunya bahwa dia tidak berdosa apapun dan tidak ada yang perlu dimintai pengampunan dari Tuhan.

Tapi jika kita telah benar-benar berdosa kepada Tuhan, maka mari kita mengambil dua langkah berikutnya...

Ampuni Dirimu Sekarang!
Mari berdoa.
Letakkan tanganmu di atas dadamu.

Langkah #1: Minta Pengampunan Dari Tuhan
Tuhan, ampuni saya sekarang, dalam nama Yesus. Ampuni saya atas segala dosa dan kegagalan saya. Saya percaya Engkau mencintai saya. Saya percaya bahwa cinta-Mu lebih besar daripada dosa-dosa dan kegagagalan-kegagalan saya. Hari ini, saya menerima pengampunan-Mu. Terima kasih karena cinta-Mu pada saya!

Langkah #2: Ampuni dirimu
Hari ini, saya membuat sebuah keputusan untuk mengampuni SAYA. Saya tahu Tuhan telah mengampuni saya. Saya tidak harus menjadi sempurna agar saya mencintai SAYA. Saya adalah seseorang yang sangat baik karena Tuhan menciptakan saya sangat baik. Karena Tuhan mencintai saya, maka saya juga mencintai SAYA. Saya tidak lagi perlu menyalahkan saya. Saya telah diampuni oleh Tuhan, dan saya mengampuni SAYA, dalam nama Yesus. Amin.

Mari sekarang bergerak ke langkah kedua untuk mencintai dirimu sendiri...

2. Terima Kelemahan-Kelemahanmu
Apa perbedaan antara mengampuni dirimu sendiri dan menerima kelemahan-kelemahanmu?
Jawab: Kita hanya mengampuni diri kita atas dosa kita. Kita tidak mengampuni diri kita karena menjadi lemah. Karena menjadi lemah bukanlah dosa. Itu adalah bagian dari menjadi seorang manusia.

Biar saya berikan sebuah analogi. Saya kenal beberapa orang tua yang memarahi (catatan: meneriaki) anak-anak mereka karena berisik dan suka bermain-main. Pada saat-saat seperti ini, saya rasanya ingin menyela dan berkata, “Ibu, dengarkanlah dirimu. Kamu sebenarnya marah pada mereka karena menjadi anak-anak?”

Itulah yang kita lakukan pada diri kita sendiri juga. Karena kita adalah kritikan-kritikan kita yang paling keras.

Jika kamu mau mencintai dirimu, kamu perlu merayakan siapa dirimu—kekuatanmu dan kelemahanmu dikombinasi. Terutama kelemahanmu!

Tembak Kakatua Dalam-mu
Biar saya ceritakan sebuah kisah.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, seorang wanita berjalan di trotoar. Dia melihat seekor kakatua di sebuah jendala toko hewan peliharaan. Saat melihatnya, kakatua itu berkata, “Nyonya, kamu sangat jelek!”

Terkejut, wanita itu berjalan dengan kesal.

Hari berikutnya, dia berjalan lagi di jalan yang sama. Dia melihat lagi kakatua itu mengamatinya di balik jendela toko. Dan tentu saja, saat kakatua itu melihatnya, dia berkata, “Nyonya, kamu sangat jelek!”

Wanita itu tidak tahan lagi. Dia bergegas masuk ke dalam toko dan memberi tahu pemiliknya, “Burungmu di luar mengatai saya jelek. Sebaiknya kau lakukan sesuatu kepada kakatua itu. Jika saya berjalan di sini lagi besok, dan burung itu mengatakan hal yang sama tentang saya, saya akan menuntutmu!”

Pemilik toko itu amat menyesal dan berkata, “Itu tidak akan terjadi lagi, Nyonya.”
Hari berikutnya, dia berjalan pulang ke rumah melewati jalan yang sama. Sekali lagi, dia melihat kakatua itu, dan kakatua itu melihatnya. Dia berhenti dan dengan pandangan dingin bertanya, “Ya?”

Burung itu, bergoyang ke depan dan ke belakang, berkata, “Kamu tahu.”

Kamu tidak Perlu Menjadi Sempurna Untuk Mencintai Dirimu Sendiri
Teman, banyak dari kita memiliki seekor kakatua di dalam diri kita yang berkata, “Kamu jelek.” Kita memiliki seekor kakatua dalam diri kita yang kita bawa ke mana-mana, kejam dan kasar. Kita sebenarnya tidak membutuhkan iblis lagi untuk menuduh dan mengutuk kita ke Neraka. Karena kita melakukannya sendiri.

Perasaan-perasaan malu ini membawa kita kepada ketergantungan kita.
Teman, tembak kakatua di dalammu. (Lebih baik lagi, goreng mereka dengan minyak olive, sedikit bawang putih, dan cabe.)

Mulailah beri tahu dirimu kebenarannya: Bahwa kamu adalah anak Tuhan dan indah tak terlukiskan. Dan bahwa Tuhan akan menggunakan bahkan kelemahan terburukmu.
Ingat: Kamu tidak perlu menjadi sempurna untuk dicintai.

Kelemahanmu Adalah Anugrah
Dalam Alkitab, St. Paulus membual tentang “Duri dalam daging”-nya.
Itu adalah kelemahannya. Orang-orang yang belajar Alkitab tidak tahu apakah itu, tapi inilah beberapa tebakan pintar:

  • godaan
  • penganiayaan
  • nafsu seksual
  • penampilan fisik
  • epilepsi
  • masalah penglihatan
  • demam malaria kronis
Tapi apapun itu, tentang kelemahannya, dia mengatakan kata-kata abadi dan mengejutkan pikiran ini. “Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: 'Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna'” (2 Kor 12:8-9)

Bagaimana bisa kelemahanmu menjadi anugrah?

Kelemahan-Kelemahanmu Memberkatimu Dalam 3 Cara Hebat
Pertama, kelemahan-kelemahanku menjadikanku rendah hati. Itu membuatku bergantung pada Tuhan lebih lagi. Dan aku melihat bagaimana Dia menggunakanku dengan luar biasa di samping semua kelemahanku! Itulah mengapa Alkitab berkata, Dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat (1 Kor 1:27).

Kedua, kelemahan-kelemahan saya membuat saya lebih mengampuni orang lain. Saya percaya bahwa seseorang yang mudah menghakimi orang lain belum menerima kelemahannya sendiri. Jika sudah, dia tidak akan menjadi orang yang suka menghakimi. Tapi karena belum, dia memproyeksikan kemarahan dirinya sendiri kepada orang lain.

Ketiga, kelemahan-kelemahan saya mengikat saya dengan orang lain dalam suatu cara yang tidak bisa dilakukan yang lain. Saat saya membagikan cerita masa lalu saya dan ketergantungan saya kepada orang lain, saya meluruhkan pertahanan saya dan membuka diri saya kepadanya. Dengan cara ini, saya juga mengizinkan orang itu untuk meluruhkan pertahanannya juga.
Teman, bersyukurlah kepada Tuhan atas kelemahan-kelemahanmu, perjuangan-perjuanganmu, dan masalah-masalahmu.

Itu semua adalah anugrah yang luar biasa yang akan memberkatimu dan orang lain.
Mari sekarang kita melanjutkan ke cara ketiga untuk mencintai dirimu sendiri.

3. Rasakan Perasaaanmu
Dulu, saya tidak merasakan perasaan saya. Saya tidak menghiraukannya. Jika perasaan itu mulai menguat, saya menghindarinya.

Bagi saya, semua hasrat adalah dosa. Dan semua emosi hanyalah bagian dari “daging”, bukan “roh”. Perasaan-perasaan adalah musuh Tuhan. Kesimpulannya, mereka merupakan hal-hal yang mengganggu yang mengalihkan saya dari melakukan kehendak Tuhan.
Tidak heran saya sangat rusak di dalam!

Karena saat kita tidak merasakan perasaan kita, kita memperlakukan diri kita sendiri dengan tidak hormat!

Saya bertingkah amat kasar kepada diri saya.

Bejana Cinta saya kosong karena saya tidak cukup mencintai diri saya sendiri untuk hanya mendengarkan perasaan-perasaan saya. Ingat: Perasaan adalah jendela jiwa. Saat saya tidak merasakan perasaan-perasaan saya, saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam saya.
Lagi-lagi, diri sendiri adalah musuh Tuhan, jadi mengapa peduli?
Fokus saja pada Firman Tuhan, dan viola, segalanya akan terpecahkan, bukan?
Betapa salahnya saya.

Karena Tuhan berbicara kepada saya lewat emosi saya yang paling negatif, dan saya tidak mendengarkan.

Ketahui Perasaanmu; Dan Ketahui Sumber Perasaaanmu
Terkadang, saya bahkan tidak dapat mengetahui apa yang saya rasakan.
Saya hanya tahu itu adalah sebuah perasaan yang tidak enak—itulah sebabnya saya menjauhinya.

Saya tidak tahu bila itu adalah kesedihan atau ketakutan atau kehawatiran atau kemarahan.
Tapi saat saya lari dari perasaan buruk saya, saya lari dari diri saya sendiri.
Sekarang, saya tahu apa yang harus dilakukan.

Saya duduk, diam sebentar, dan mencari tahu apa yang saya rasakan. Saya tidak hanya kasak-kusuk dalam hari-hari sibuk saya.

Saat saya mengetahuinya, maka saya merasakan perasaan itu. Saya merasakannya di hadapan Hadirat Tuhan.

Saya juga mencoba untuk mengetahui sumber perasaan-perasaan ini.
Mengapa saya merasa seperti ini?
Apakah ada tindakan yang harus saya lakukan?
Terkadang, hanya langkah awal dari “merasakan perasaan saya” saja yang dibutuhkan. Saya tidak perlu melakukan yang lain lagi.

Dengan merasakan apa yang saya rasa, saya menghargai diri saya.
Dengan merasakan apa yang saya rasa, saya memulihkan diri saya.
Mungkin butuh waktu agar perasaan yang menyakitkan itu berlalu, tapi pada akhirnya, saya bangkit dari situ utuh dan penuh kedamaian.

Terkadang, saya harus melakukan yang lain. Mungkin saya perlu berserah pada Tuhan. Mungkin saya perlu melakukan sesuatu yang nyata, seperti berbiacara pada seseorang atau menyelesaikan masalah.

Pada Akhirnya, Kamu Tetap Melakukan Apa yang Tuhan Ingin Kamu Lakukan
Tidak, saya tidak seharusnya mengikuti perasaan saya dengan buta.
Itu berasal dari seorang gila yang berkhotbah, “Lakukan apa yang kau rasakan. Jika kamu merasa ingin memukul seseorang, maka pukullah bantal atau tembok. Jika kamu merasa ingin berteriak, maka pergilah ke dalam kamarmu dan berteriaklah sekeras-kerasnya. Jika kamu mau mabuk, maka minum...” Jangan ikuti strategi itu.

Saya tidak berkata, “Lakukan apa yang kamu rasakan.” Saya berkata, “Rasakan apa yang kamu rasa.”

Saat kamu merasakan perasaanmu di hadapan Hadirat cinta Tuhan, akhirnya. kamu tetap melakukan apa yang Tuhan ingin kamu lakukan. Tapi kamu mengizinkan dirimu merasakan perasaanmu yang menyakitkan, untuk mengesahkannya, dan untuk mendengarkan pesan di dalamnya.

Ini adalah langkah yang sangat penting untuk mencintai dirimu sendiri.

Ingat apa yang saya katakan tentang akibat langsung dari ketergantungan kita? Karena kita ingin melarikan diri dari emosi-emosi yang menyakitkan. Tapi dengan memasuki perasaan-perasaan menyakitkan dengan keberanian, kita menyadari bahwa mereka tidak se-menakutkan itu. Setelah beberapa saat, kita tidak lagi membutuhkan ketergantungan-ketergantungan kita. Karena kita tidak lagi perlu jalan untuk melarikan diri dari emosi-emosi kita yang menyakitkan.
Akhirnya, kita sampai pada langkah keempat untuk mencintai diri kita.

4. Percayai Kebutuhanmu
Saya tidak tahu bagaimana dengan kamu, tapi saya telah diajari oleh merk agama saya untuk tidak mempercayai perasaan saya—dan untuk tidak mempercayai kebutuhan saya juga. Karena saya menggambarkan hasrat-hasrat saya lebih tepatnya dari daging, bukan dari roh.
Pesan yang saya terima adalah ini: “Takuti dirimu. Takuti hasratmu. Takuti keegoisanmu. Jangan percayai dirimu. Sebaliknya, percaya Tuhan. Percaya kelompokmu. Percaya pemimpinmu. Percaya sistem...” (Inilah alasan mengapa terdapat banyak sekali penindasan spiritual yang terjadi dalam kelompok religius.)
Oh, betapa hal yang mengerikan untuk dipercaya!
Pendeta, pengkhotbah, dan pastor suka menekankan pesan ini: “Jangan percaya dirimu!” Secara langsung atau tidak langsung, mereka akan meminta anggota mereka untuk secara mudah percaya pada kebijaksanaan dan keputusan pemimpin mereka. Tanpa diduga, mereka menghasilkan orang-orang yang menjadi bayi dalam pertumbuhan emosi dan spiritual mereka.
Bukannya kebebasan, kepercayaan membelenggu kita kepada ketidak-dewasaan. (Tuhan memanggil kita untuk menjadi seperti anak-anak, bukan kekanak-kanakan.)


Tuhan Mempercayaimu—Kapan Kamu Akan Mempercayaimu?

Sebaliknya, kita perlu mendengar sebuah pesan baru.
Pesan apa? Bahwa kamu dibuat serupa gambaran Tuhan. Bahwa kamu bukan hanya baik. Kamu sangat baik! Jadi percayai dirimu sendiri karena Tuhan mempercayaimu. Dia mempercayaimu dengan memanggilmu anak-Nya. Dia mempercayaimu dengan membangun Kerajaan-Nya di dalammu. Dia mempercayaimu dengan tinggal di dalammu. Dia mempercayaimu dengan memberimu jabatan untuk menjadi kehadiran-Nya di dunia ini. Dia mempercayaimu untuk mencintai seperti Dia mencintai. Wow! (Percayalah, saat saya berdoa, saat saya membaca Alkitab, saat saya mendengar suara Tuhan di kedalaman hati saya, saya berkata, “Wow!” berkali-kali.)
Dan satu cara untuk mempercayai dirimu adalah dengan mempercayai kebutuhanmu.
Bukan kebutuhan dosamu. (Itu yang perlu kamu sangkal.) Tapi kebutuhan yang sah, valid, dan Tuhan tanam di dalammu.
Penuhi kebutuhan itu. Bahkan kebutuhanmu untuk bersuka cita.
Beberapa orang melihat semua kesenangan sebagai sesuatu yang buruk. Moto tidak tertulis mereka: “Jika rasanya menyenangkan, itu pasti buruk.” Itu tidak benar.
Saya percaya hidup diberikan oleh Tuhan untuk dinikmati semaksimal mungkin. Untuk dinikmati dengan kesenangan. Jadi rasakanlah. Hiruplah. Bersukacitalah. Menarilah. Menyanyilah. Hiduplah!
Saat kita menikmati hidup, kita membiarkan orang lain menikmatinya juga. (Pernah bertanya mengapa beberapa orang religius begitu mandeg, sehingga mereka tidak membiarkan siapapun menikmati hidup?)
Cintai dirimu sendiri!

Apa Yang Mengeringkanmu? Hilangkan Itu Jika Kamu Bisa
Saya tidak bermaksud untuk menulis daftar lengkap tentang bagaimana kamu perlu merawat dirimu sendiri. (Saya akan melakukannya dalam artikel yang lain.)
Tapi inilah pertanyaan yang saya ingin kamu tanyakan pada dirimu: Apa yang mengeringkanmu?
Orang, benda, aktivitas, kelompok, kebiasaan, situasi, dan tempat apa dalam hidupmu yang mengeringkan sukacitamu dan hidupmu dan tenagamu dan kesucianmu? Apa yang menyedot kebahagiaanmu?
Jika kamu bisa menghilangkan hal yang mengeringkan itu, lakukanlah!
Dengan melakukannya, kamu akan tumbuh dan memiliki lebih banyak kehidupan dan tenaga untuk hal-hal yang tepat yang Tuhan ingin kamu lakukan.
Dengan kata lain, saya memintamu untuk menetapkan batasanmu.
Biar saya urutkan hal-hal yang mungkin “mengeringkan” dalam hidupmu...

  1. Rawatlah kesehatan emosimu
  2. Saya menghabiskan banyak waktu dengan “vampir-vampir emosional”—orang-orang yang sangat tergantung pada saya, atau mereka yang sangat negatif, atau mereka yang memanipulasi saya secara emosional...
    • Saya masih tergantung pada relasi romantis yang buntu
    • Saya tidak punya teman dekat
    • Saya terlalu banyak nonton TV
    • Saya tidak punya waktu untuk hanya berisitrahat dan berefleksi, untuk membaca dan membuat rencana
  3. Rawatlah kehidupan keluargamu
    • Relasi saya dengan pasangan hidup dan anak-anak saya dangkal
    • Saya memiliki konflik yang panjang dengan anggota keluarga saya
    • Suasana rumah saya kacau
    • Saya merasa saya bukan ibu (ayah, anak...) yang baik
  4. Rawatlah kehidupan profesionalmu
    • Saya tidak menikmati pekerjaan saya
    • Saya rasa saya tidak memenuhi misi pekerjaan saya
    • Saya rasa karunia utama saya dapat digunakan di tempat lain
    • Saya tidak dapat lagi bekerja dengan partner saya
    • Saya tidak melihat masa depan dalam karir saya
  5. Rawatlah kesehatan fisikmu
    • Saya tidak makan makanan yang tepat
    • Saya tidak tidur cukup
    • Saya tidak cukup berolah raga
    • Saya memiliki kebiasaan buruk yang merampok kesehatan saya
  6. Rawatlah kesehatan finansialmu
    • Saya membiarkan “parasit” bergantung pada saya bukannya membiarkan mereka berdiri sendiri
    • Saya memiliki hutang yang besar
    • Saya terlambat membayar tagihan saya
    • Saya tidak tahu ke mana uang saya pergi setiap bulannya
    • Saya tidak memiliki tabungan dan rencana investasi
    • Saya tahu saya tidak akan memiliki cukup untuk pensiun dan hari tua saya
  7. Rawatlah kesehatan spiritualmu
    • Saya terikat pada ketergantungan yang mengeringkan saya secara spiritual
    • Saya berfokus pada dosa saya, bukan pada cinta Tuhan pada saya
    • Saya tidak menghabiskan waktu dengan Tuhan
    • Saya kekurangan teman-teman komunitas beriman untuk mendukung saya
    • Saya rasa saya tidak mengikuti petunjuk moral saya sendiri
    • Saya rasa saya tidak melayani Tuhan dan sesama
Jika kamu mencentang hal apa pun yang ada di atas, lakukanlah sesuatu!
Minta bantuan.
Tapi jangan terpuruk pada poin yang sudah tidak bisa diapa-apakan lagi.

Cintai Pendosa Dan Santo/Santa Di Dalam
Kita tergoda untuk hanya melihat pendosa dalam diri kita.
Ingatkan dirimu bahwa ada seorang santo/santa di dalammu juga.

Juli yang lalu, saya menghadiri beberapa pesta ulang tahun bersama teman-teman dekat saya. Sudah menjadi tradisi bahwa kami merayakan orang yang berulang tahun—jadi saat itulah giliran saya untuk duduk di kursi panas. Saya harus jujur padamu. Rasanya mengerikan untuk dirayakan oleh teman-teman selama satu jam—tapi setelah beberapa saat, saya merasa Bejana Cinta saya dipenuhi.

Sebagai contoh, seorang teman ingat bagaimana saya membantunya di saat dia membutuhkan. (O ya? Benarkah?) Teman yang lain bercerita bagaimana dia tersentuh oleh belas kasih saya. Teman yang lain menghormati saya karena betapa saya selalu berada di sampingnya bahkan saat semua orang lain menolaknya.

Saya berharap kamera Preacher In Blue Jeans menyala! Sayangnya tidak. Tidak, bukan supaya kamu dapat mendengar penghormatan mereka. Tapi supaya saya dapat membalas mereka dan saya dapat mendengarkannya lagi—terutama pada masa-masa keraguan diri. Saat saya merasa buruk. Saat saya merasa tidak berharga. (Ya, saya melalui masa-masa itu.) Ini adalah pengalaman yang universal.

Biar saya akhiri dengan menceritakan sebuah cerita indah yang saya baca di seri Chicken Soup...

Ingatkan Dirimu Bahwa Kamu Adalah Orang Suci Di Dalam
Suatu hari, seorang guru meminta murid-murid di kelasnya untuk menuliskan nama teman-teman sekelas mereka pada selembar kertas. “Dan beri jarak antara setiap nama”, perintahnya.

Setelah selesai, guru itu berkata, “Di bawah setiap nama, saya ingin kalian menulis hal-hal baik yang kalian lihat pada orang itu.” Segera saja, anak-anak menyibukkan diri mereka dengan tugas itu dan menghabiskan seluruh jam pelajaran untuk menyelesaikannya.

Guru itu membawa pulang kertas-kertas tersebut dan menggabungkan isinya. Pada satu kertas untuk tiap anak, dia menulis semua kualitas positif yang ditulis teman-teman sekelasnya.

Pada kelas berikutnya dia menyerahkan kertas-kertas itu kepada anak-anak. Mereka sangat gembira membaca surat tersebut. “Wow, benarkah aku orang ini?”, seru beberapa dari mereka.

Bertahun-tahun kemudian, guru itu menerima panggilan telepon. Salah satu dari muridnya yang dulu, yang telah menjadi tentara, tewas dalam perang. Apakah dia mau menghadiri pemakamannya?

Dia pergi dan melihat banyak murid-muridnya yang dulu turut berduka cita dengan keluarga yang berduka. Saat dia berdiri di samping peti mati, melihat tubuh seorang pria muda yang tak bernyawa dengan berpakaian seragam, seorang wanita paruh baya mendekatinya. “Apakah Anda guru sekolah anak saya?”
“Ya,” jawabnya, “Anda pasti ibunya. Saya turut berbela sungkawa sedalam-dalamnya.”

“Saya hendak menunjukkan sesuatu kepada Anda,” kata sang ibu. “Anak saya menyimpan ini di dalam dompetnya saat dia meninggal.” Dia menarik keluar sebuah kertas kumal. Jelas sekali bahwa kertas itu telah dilipat dan dibuka berulang kali.

Bahkan sebelum dibuka, guru itu sudah tahu apa itu. Itu adalah potongan kertas yang berisi daftar kualitas positif yang dilihat teman-teman sekelasnya di dalamnya. Disimpan dan dibaca selama bertahun-tahun.
Pada saat itu, murid-murid yang lain berkumpul di sekeliling mereka berdua. Seorang pria muda di samping guru itu berkata, “Uh, saya juga membawa milik saya kemana pun.”

Seorang wanita di belakang berkata, “Saya masih menyimpan milik saya. Ada di dalam buku harian saya.”
Pria yang lain berkata, “Saya memajang daftar saya di atas meja saya di rumah.”

Wanita yang lain berkata, “Sepertinya kita semua menyimpan kertas itu selama bertahun-tahun ini!”
Sang guru tergerak tanpa dapat dilukiskan kata-kata.
Mengapa sepotong kertas sederhana dapat berarti begitu besar?

Karena inilah kenyataannya: Hidup dapat menjadi keras. Pada waktu yang tidak diduga, dia dapat menjadi sangat kejam. Setiap kali kita gagal, setiap kali kita menerima kritik, setiap kali kita ditolak, kita meragukan kelayakan kita. Kita meragukan kebaikan kita.

Kita sangat haus akan cinta.
Kita perlu mencintai santo/santa di dalam kita.

Teman, cintai dirimu sendiri.
Setiap hari, rayakan kualitas-kualitas positifmu. Rayakan kebaikanmu. Rayakan kecantikanmu.
Bersyukurlah pada Tuhan karena dia telah menciptakanmu begitu luar biasa.
Cintai pendosa dan santo/santa di dalam.

Saya tetap sahabatmu,



Bo Sanchez
-translated by hiLda 2009-

NB:

  1. Judul original artikel karya Bo Sanchez: "Love The Sinner And The Saint Within". Untuk membacanya, silakan cari di kotak Google Custom Search di sebelah kanan.
  2. Download PDF-nya di sini. Bila kamu merasa diberkati, bagikanlah tulisan ini ke teman-temanmu. GBU alwayz... ^^


Bookmark and Share

Baca selengkapnya...